joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Puas

Email Cetak

Beberapa hari lalu saya kedatangan tamu. Rombongan yang ternyata petugas PLN itu datang dengan bermobil hitam tanpa pernak-pernik PLN. Biasanya mobil petugas PLN memasang atribut identitas PLN atau stiker ‘Bright People Bright Future’ mentereng.

Tamu dari Perusahaan Listrik Negara ini memberitahukan bahwa meteran listrik yang terpasang di rumah saya menggunakan MCB yang bukan standarnya PLN. Sepenuhnya saya heran. Baru menyadari bahwa MCB sebagai salah satu instrumen yang berperan mengaliri listrik kerumah saya selama ini adalah barang palsu.

Pendek cerita. Akhirnya MCB tersebut diganti dan saya mendapat satu surat berupa lembaran kertas warna kuning sebagai panggilan ke kantor PLN.

Dengan lugunya saya menduga-duga. Harap-harap cemas. Adakah ini berupa jebakan. Dimana PLN sesungguhnya berniat ngerjain pelanggan bodoh seperti saya yang selalu terima kondisi gimana saja, penurut, tidak pernah memuji prestasi PLN dan paling jarang protes soal listrik mati.

Mungkin berdasar itu PLN merasa perlu memberi hadiah kepada orang seperti saya. Beri panggilan yang bikin tidak nyaman, lalu akhirnya diberi kejutan hadiah yang tidak juga perlu mahal.

Saya menduga begitu. Sebab metode ini sering diterapkan sebagai strategi pemasaran demi meraih hati dan perhatian pelanggan yang lumayan jitu. Efek kejut dari strategi ini, menurut pakar public relation, akan menancap sepanjang masa.

Esoknya. Kantor PLN adalah bangunan yang megah dan sejuk. Disana saya berhadapan dengan petugas customer service yang cantik nan ramah. Darinya saya dapat penegasan bahwa meteran di rumah saya menggunakan MCB yang bukan standar PLN. Jadi harus membayar biaya penggantiannya.

Jujur! Sebelumnya saya tidak tahu apa itu MCB. Namun yang pasti pada surat undangan warna kuning yang diberikan pada saat rombongan petugas PLN tersebut datang, tertulis; MCB terpasang non PLN 10 Amper – MCB di sistim 10 Amper – Dipasang MCB milik PLN 10 Amper. Saya masih kebingungan. Bagaimana mungkin MCB palsu itu bisa terpasang di sana.

Sehingga saya terus-terusan bertanya di mana letak kesalahan saya. Protes. Walau dalam hati masih saja terus berharap sesi kejutannya segera dimulai. Celingak-celinguk di meja customer service. Terbayang hadiah kejutan yang saya yakin bukan sesuatu yang mahal akan segera muncul.

Saya merasa tidak puas berhadapan dengan customer service PLN yang cantik ini. Sebab dia tidak cukup mampu menjelaskan duduk persoalan secara gamblang. Meskipun dari jawabannya, sedikit banyak saya paham bahwa MCB merupakan alat yang menentukan jumlah arus listrik sesuai dengan kesepakatan berlangganan.

Misalnya di rumah kita berlangganan listriknya 6 amper, maka MCB harus yang 6 amper juga. Jika berlangganan listrik kita 10 amper, maka MCB yang terpasang harus 10 amper juga. Jika pelanggan berlangganan arus listrik sebesar 6 amper namun yang terpasang di meteran justru 10 amper. Maka hal ini masuk dalam kasus pencurian listrik.

Pada kasus di rumah saya, tercatat pada sistim PLN bahwa saya berlangganan 10 Amper dan MCB terpasang juga sesuai, yaitu ukuran 10 amper. Kesalahan saya adalah MCB tersebut bukan yang standar PLN. Akhirnya protes bodoh nan rewel saya menghasilkan hadirnya seorang yang mengaku manager di perusahaan tersebut.

Dengar penjelasannya. Saya segera sadar dan tahu bahwa saya tidak punya pilihan lain. Selain PLN untuk menyalanya lampu di rumah saya. Lagi pula saya tidak cukup punya pengetahuan mana MCB palsu, mana MCB setengah asli dan mana yang bebar-benar asli. Sesungguhnya sang manager berbaik hati untuk membawa saya ke bagian teknis.

Niatnya beliau akan mengajar dan menunjukan pada saya perbedaan-perbedaan MCB. Namun saya menolaknya lantaran itu merepotkannya dan tidak perlu rasanya. Sebab saya sudah paham. Bahwa saya adalah pihak yang lemah. Sadar posisi tidak berdaya tapi sempatkan diri koar-koar protes banyak gaya.

Maka dengan rasa terpojok dan berat hati. Saya langsung berupaya mempersingkat waktu. Meminta rincian biaya yang hanya soal waktu, sebab pasti harus membayarnya. Saya kuatir akan malu jika diterapkan upaya bayar paksa akibat ceroboh terpasangnya MCB palsu yang entah oleh siapa di meteran listrik rumah saya itu.

Ujungnya saya terdiam dan lemas. Ketika total yang harus saya bayar jumlahnya jauh lebih banyak dari tagihan handphone saya selama 3 bulan. Tertulis jelas total pada Struk Non Tagihan Listrik, sebesar Rp. 1.107.891,- Serta merta saya harus mempositipkan pikiran dengan menganggap bahwa MCB asli tersebut adalah hadiah kejutan dari PLN yang sedari tadi saya harapkan.

Kalaupun saya dibebani dengan biaya Non Tagihan Listrik mahal. Bukankah perkara ini sudah memberi saya sensasi pengalaman dan pelajaran sangat berharga. Kita semua tahu, bahwa biaya belajar memang mahal. Begitu tulus bodoh hati saya berkata miris.

Tertulis pada lembar pembayaran. Bahwa nilai MCB I P 2A-25 A adalah Rp. 31.259,- biaya ganti segel Rp. 30.000,- dan biaya beban Rp. 1.040.322,- sehingga totalnya Rp. 1.107.891,- Harus saya akui bahwa saya bodoh. Kebodohan adalah juga kesalahan dan kesalahan harus dihukum. Sehingga sebagai orang bodoh saya harus terima dihukum dengan beban Rp. 1.040.322,-

Hingga kini saya tetap tidak mengerti yang saya bayar itu sesungguhnya biaya apa dan berdasar perhitungan dengan rumusan bagaimana. Sehingga biaya beban jadi Rp. 1.040.322,-

Ada yang mengganjal di hati saya yang bodoh ini. Sepertinya koq ada yang membodoh-bodohi saya. Sebab selama ini saya paling jarang mengurusi yang namanya meteran listrik. Apalagi berupaya mengutak-atik perangkat yang sana-sininya umumnya disegel begitu. Ditambah lagi saya ini adalah jenis manusia yang tidak paham soal kelistrikan.

Satu-satunya berurusan adalah saat kesetrum ketika coba-coba perbaiki saklar yang rusak. Pengalaman itu bikin kapok dan tidak pernah lagi sok pintar otak-atik perangkat berlistrik. Kini saya belajar banyak dari pengalaman mahal ini.

Harapan menulis artikel ini supaya kita semua jadi waspada. Jika ada petugas PLN datang maka yang harus dilakukan adalah melakukan metode 3D. Ini metode mujarab untuk menangkal peredaran uang palsu arahan Bank Indonesia. Terapkan juga pada petugas PLN. Dilihat, Diraba dan Diterawang. Dengan begitu anda terhindar dari petugas PLN aspal.

Ini adalah saran yang juga disampaikan oleh customer PLN itu. Konsumen harus hati-hati dengan orang yang mengaku petugas PLN asli tapi palsu. Lebih tiga tahun saya menempati rumah itu. Meskipun tidak selalu, saya kerap melihat petugas yang datang untuk mencatat sesuatu dari meteran dari rumah ke rumah di komplek saya.

Dulu mereka datang dengan lembar catatan. Namun kini sepertinya petugas itu datang dengan alat yang makin canggih. Semacam alat yang mampu mendeteksi dan mencatat secara akurat jumlah pemakaian pelanggannya. Lucunya butuh waktu tiga tahun untuk PLN bisa memastikan bahwa ada makhluk bernama MCB aspal di meteran listrik rumah saya. Padahal rutin di tiap bulannya ada petugas yang  mengunjungi meteran ‘danger’ tersebut.

Pertanyaan yang menggelitik kebodohan saya, mengapa butuh waktu selama itu untuk menyatakan bahwa MCB itu bukan standar PLN. Sementara meteran itu sejak lama sudah terpasang begitu. Sehingga momen jelang hari raya ini, bukannya PLN memberikan bingkisan guna menebus kesalahannya dalam soal pelayanannya.

Kita sebagai pelanggan sangat maklum dan terima ketika ada pemadaman listrik bergilir. Malahan saya sebagai konsumen yang baik. Baca: Selalu rutin rajin bayar tagihan listrik tiap bulannya. Justru dapat kejutan biaya Non Tagihan Listrik. “Mas gak usah rewel dan banyak protes!” Teman saya nyinyir mengingatkan. “Memangnya kalau mas kecewa dengan pelayanan PLN, terusnya mau berhenti berlangganan?” Tutup teman saya mendelik. Membuat saya makin menyesali nilai denda MCB tersayang. Kehadirannya begitu terasa mengganggu rencana beli baju buat berlebaran.

Memang paling indah jika berbisnis tanpa saingan. Sejatinya kompetitor adalah partner yang memberi kita kesempatan untuk berupaya selalu meningkatkan kualitas mutu ataupun pelayanan.

Bagi yang belum berpengalaman menjalankan usaha tanpa ada gangguan persaingan. Tentu akan sukar berkomentar. Karna umumnya dunia usaha penuh dengan intrik. Bahkan semangat dunia pemasaran sebagai ujung tombak bisnis menggunakan istilah-istilah perang. Sebab seperti itulah nyatanya persaingan dunia usaha. Ada strategi banting harga, jual rugi, tingkatkan pelayanan, meningkatkan mutu dan lain sebagainya.

Semua strategi itu hanya perlu bagi bidang usaha yang sadar bahwa persaingan itu ada. Namun jika kita mengelola sesuatu yang jelas-jelas merupakan produk yang tidak mungkin ada pesaingnya, untuk apa kita pusing dengan peningkatan ini dan itu. Pelanggan tidak mungkin lari, itu pasti. Sebab tiada lagi yang bisa menyediakan produk kita itu.

Bahkan kalau tega, terapkan dan bebankan saja Non Tagihan Listrik itu berlipat-lipat. Sesuaikan dengan intonasi suara konsumen tersebut kala protes. Kalau protesnya sambil marah-marah kita tagih mahal. Kalau sambil senyum berikan diskon secukupnya. Pasti mereka akan bayar juga karna memang tiada pilihan.

Usaha yang berkesempatan memonopoli suatu produk, pada kesempatan meetingnya akan selalu pusing membahas soal, “mau untung berapa kita tahun ini?” Dengan nikmat seperti itu, umumnya mereka kerap terjebak pada semangat berkubang pada kesombongan. Pongah sehingga lupa berorientasi lagi pada kepentingan pelayanan pelanggan.

Sementara korban-korban bodoh seperti saya masih akan terus berjatuhan. Layaknya kerbau-kerbau yang dicucuk hidung masuk antrian rumah pejagalan.

Akhirnya saya memutuskan membayar semua tagihan denda yang disampaikan. Saya rela membayar jumlah itu bukan karna merasa bersalah. Dimana terpasang MCB bukan standar PLN di meteran listrik saya. Saya hanya merasa harus membayar Rp. 1.107.891,- karna cukup puas berkoar-koar sambil latihan vokal dan ditonton banyak orang dalam gedung yang megah nan sejuk itu.

Biaya beban itu saya jadikan pelajaran dan ganjaran dengan kesan mendalam. Terutama buat orang nekad seperti saya. Biar kapok! Berani-beraninya mimpi di siang bolong serta berharap pula dapat kejutan hadiah lebaran dari PLN.

 

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja