joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Mudik

Email Cetak

Bagi orang yang sudah tidak lagi punya kampung dan gampang bingung seperti saya. Memaknai semangat berlebaran dengan keharusan pulang kampung demi silahturahmi dengan keluarga inti adalah keputusan yang baik. Tetapi pada situasi dan kondisi tertentu, tidak juga dapat dikatakan benar.

Pulang kampung atau umum disebut mudik didasari oleh semangat perantau yang rindu kampung halaman. Rindu berkumpul dengan sanak saudara setelah sekian lama mencari peruntungan di negeri orang. Padahal hakikat berlebaran adalah hari kemenangan. Hari di mana kita menjadi murni laksana lahir kembali setelah menjalani ibadah puasa, menahan hawa nafsu, haus dan lapar.

Mudik bila ditilik berdasar asal katanya adalah udik. Udik sendiri merupakan lawan kata dari kota. Namun jangan salah sangka. Di jaman sekarang ini semua orang sudah terpapar oleh sentuhan globalisasi. Maka tidak ada lagi daerah yang pantas disebut sebagai udik. Udik di sini bila dikaitkan dengan kampungan atau desa yang ndeso.

Dahulu ketika sarana komunikasi serta transportasi masih terbatas. Para perantau melakukan ritual mudik dengan segala pengorbanannya bukan hanya demi bersilahturahmi. Ada semangat tersembunyi yang turut mengikuti. Yakni naluri ingin diakui juga dikagumi. Bukan rahasia lagi bila ritual mudik juga dijadikan sebagai ajang pamer sukses hasil usaha diperantauan.

Ada terselip kecongkakan dari para perantau yang pulang kampung. Ada pengakuan yang ingin digapai oleh para pemudik ini. Minimal keberaniannya di masa lalu untuk meninggalkan kampung halaman demi berjuang mengejar harapan, kini dibuktikannya dengan bergaya saat mudik. Nantinya tampil di kampung lengkap dengan atribut yang bercita rasa sukses.

Itulah mengapa demi mudik segalanya dikorbankan. Waktu, tenaga serta biaya dipersiapkan sedemikian rupa untuk ritual yang sudah terlanjur lekat jadi budaya. Segala pernak-pernik yang disangka unik dibeli untuk oleh-oleh atau sekedar dipamerkan kepada orang di kampung. Alasan apalagi kalau bukan pencitraan diri yang hendak dicapai.

Bagi yang kampungnya dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat. Maka mobil paling mutahir adalah tunggangan yang bakal dipertimbangkan. Jika mobil mahal tak terbeli. Pilihannya adalah rental mobil terbaru lengkap dengan supirnya. Lalu bergaya dengan kacamata hitam yang bisa dibuka tutup bagaikan kaca nako. Alhasil si pemudik akan distempel sukses oleh warga sekampung.

Padahal di jaman sekarang ini tali silahturahmi nihil terputus jika ada kemauan. Tidak seperti dulu yang kirim surat atau wesel butuh waktu seminggu untuk bisa diterima. Jaman sekarang semua orang nyaris sudah pegang hape. Kapanpun dan di manapun bisa seketika dihubungi atau berbalas pesan jika ada keperluan.

Meskipun harus diakui bahwa silahturahmi tatap muka tidak tergantikan hanya dengan sms belaka. Namun alasan bersilahturahmi di saat lebaran yang mengorbankan waktu, tenaga dan biaya, sebetulnya sudah tercegah oleh kemajuan jaman. Lihatlah bagaimana para pemudik rela mengorbankan segalanya. Bahkan ada yang mengorbankan kesempatan demi kemajuannya untuk alasan mudik, berkumpul dengan keluarga di saat lebaran.

Berdesak-desakan di angkutan umum, panjangnya antrian, mahalnya ongkos serta ancaman kemacetan di jalan bukanlah halangan. Tujuan hendak berkumpul dengan sanak saudara seperti mengalahkan segalanya. Padahal sedikitnya penumpang serta murahnya tiket transportasi bisa di dapat jika gunakan akal untuk sedikit menunda waktu mudiknya.

Yang jadi pertanyaan adalah, apakah memang perjuangan menahan haus, lapar serta nafsu selama masa puasa sudah dijalaninya dengan benar. Sebagai sukses gemilang yang patut dirayakan pada hari kemenangan. Sehingga keteladanan dengan esensi terlahir kembali sebagai manusia baru menjadi layak untuk dipamerkan, ditularkan kepada orang dikampung halaman.

Bahkan ketika menyaksikan apa yang menjadi tayangan favorit di televisi pada bulan puasa. Membuat banyak orang meragukan pemahaman pengelola televisi dalam hal memaknai puasa. Kalau kita sepakat bahwa tontonan yang ditayangkan televisi mencerminkan minat penontonnya. Patut diduga bahwa pengelola dan pemirsanya sama-sama gagal paham soal makna puasa.

Saksikan saja tayangan-tayangan konyol serta hiburan musik yang mengisi waktunya berpuasa. Saksikan pula hiburan sejenis kejar tayang yang gemilang menuai rating semalam suntuk demi menemani pemirsa menanti sahur. Sepertinya semua tayangan itu jauh dari semangat hikmat jalani ramadan.

Ada pula orang yang berpuasa lantas menuntut agar semua orang ikutan puasa. Melarang orang berjualan makanan. Melarang orang untuk mengais rejeki yang terpaksa dijalaninya. Penyataan ini bukan bermaksud konyol dengan memohon untuk menghormati orang yang tidak berpuasa. Namun bukankah tidak semua orang menjalankan ibadah puasa.

Hakikat toleransi semakin kabur. Risalah saling menghormati kehilangan esensi. Terlalu banyak yang salah kaprah mengartikan ajaran berhakikat kebaikan. Terlalu banyak orang keblinger memaksakan pemahamannya yang pas-pasan tetapi nekad disebar luaskan di jejaring sosial. Alhasil bukannya menyejukan jalan menuju kemenangan malah meresahkan.

Perbedaan ditonjol-tonjolkan demi menciutkan yang minoritas. Padahal hakikat dari ajaran yang dianutnya mewajibkan untuk membela yang tidak sama. Bukan malah merasa menjadi paling benar di atas segalanya. Lalu berupaya menindas supaya yang sedikit menjadi tiada. Selalu kisruh dengan meributkan caranya sehingga lupa mengenai hakikatnya.

Kebiasaan telah melekat jadi budaya. Di sisi lain pemerintah selalu kedodoran menanggapi lonjakan tuntutan fasilitas demi aman dan nyamannya pemudik lebaran. Mulai dari fasilitas angkutan hingga proses perbaikan jalan urung tuntas dari jaman ke jaman. Secara realistis semua bisa membaca bahwa ritual tahunan ini berwujud ekonomi biaya tinggi bila diikuti.

Akhirnya lip service jadi pamungkas. Pamer renovasi serta perbaikan fasilitas umum dilakukan pada tempat-tempat yang mudah dipantau warga. Hal ini umum dilakukan saat jelang lebaran. Terkadang tindakan pembangunan atau perbaikan hanya membuat kemacetan panjang. Inilah tontonan, inilah pembuktian bahwa pemerintah sedang bekerja. Padahal hingga lebaran tahun depan proyek yang sama masih juga belum terselesaikan.

Tiap tahun saya juga jadi korban. Korban rengekan orang tua dan sanak keluarga yang meminta saya untuk hadir di tengah-tengah mereka saat hari raya. Sadar diri akan kemampuan mendorong saya untuk merancang penjelasan. Bahwa perjuangan saya masih panjang dan menuntut pengorbanan tidak pulang kampung di lebaran sekarang.

Apakah mungkin ini adalah cara saya melakukan kebaikan. Memberi kesempatan kepada orang yang sudah sukses yang tidak bisa menunda lagi, alias kebelet untuk mudik lebaran.

 

Bayu Sahaja

 

>>>>>>>>>> Jangan Baca Tulisan KataFoto Lainnya <<<<<<<<<<<

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja