joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Dobrak

Email Cetak

Membaca aturan Lomba Foto Taman Safari tahun 2015, saya terhenyak. Betapa panitia demikian tega dalam membuat batasan. Tertera jelas dalam aturan lombanya, obyek foto merupakan segala jenis satwa, kecuali jenis serangga, katak ataupun siput-siputan. Dalam hati saya bertanya, “apa salah mereka?”

Sejak jaman kamera analog, di mana proses fotografi masih menuntut proses cuci dan cetak, saya sudah ikutan lomba ini. Seingat saya Lomba Foto Taman Safari adalah kompestisi yang sangat konsisten mengadakan acara di tiap tahunnya. Selain didukung publikasi yang mengangkat gengsi cukup luas. Acara ini juga menjanjikan hadiah serta bingkisan sponsor yang melimpah.

Sejak mengenal kamera. Saya selalu ikut-ikutan di ajang lomba foto ini. Mungkin lantaran itu pihak panitia jadi kasihan. Lalu memberi kesempatan pada saya untuk meraih gelar juara meski paling bontot pada tahun 2009. Alhasil sebagai pemenang saya diundang ke Taman Safari, datang, nginap semalam dan mengikuti acara pengumuman. Dapat hadiah berupa uang, bingkisan sponsor serta foto bersama pemenang lainnya. Bangga.

Di saat menyimak sambutan. Saya mendengar adanya niatan panitia untuk mengubah format tata cara Lomba Foto Taman Safari tersebut. Seingat saya, panitia akan menjadikan lomba foto berikutnya dibuka untuk internasional. Teknik pengiriman karya foto peserta juga akan dirancang tidak harus lagi mengirim hasil cetak yang ribet. Tapi cukup on line atau upload file digital. Ide cerdas dan sangat layak diterapkan untuk ajang sekelas Lomba Foto Taman Safari yang bergengsi.

Sejak dicanangkan sebagai lomba foto berkelas internasional maka pesertanya menjadi bebas diikuti oleh warga negara dari segala penjuru dunia. Tidak terbatas hanya untuk warga negara Indonesia saja. Untuk lokasi pemotretannya juga bebas. Artinya motretnya tidak harus di Taman Safari Indonesia saja. Tetapi boleh dilakukan di alam bebas manapun. Mencakup taman-taman nasional yang berada di belahan dunia sebelah manapun. Ada keluasan cakrawala bepikir yang melandasi kebijakan ini.

Lomba Foto Taman Safari digelar sejak tahun 1990. Ini pelaksanaan di tahun perak alias yang ke 25. Dilaksanakan juga dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup sedunia pada 5 Juni. Gagasannya sungguh mulia. Yakni, memberikan kesempatan para penghobi fotografi untuk dapat menyingkap keindahan satwa liar. Selanjutnya diharapkan acara ini dapat memberi daya tular kepada masyarakat luas untuk ikut peduli dan mencintai keberadaan satwa liar tersebut. Dengan bahasa foto merangsang efek peduli masyarakat untuk turut serta melestarikan satwa secara langsung maupun tidak langsung.

Namun mengapa pula di ajang lomba foto tahun 2015 ini pihak panitia demikian tega bikin aturan. Tidak membolehkan serangga, katak atau siput-siputan menjadi obyek fotonya. Apakah pihak panitia beranggapan bahwa serangga, katak atau siput-siputan tidak masuk kategori sebagai satwa yang harus juga dilindungi dan dilestarikan. Keputusan yang sudah pasti mutlak dan tidak bisa diganggu gugat itu tentu saja mengusik pikiran banyak orang menduga-duga. Alasan apakah gerangan yang mendasari pengecualian ini.

Teman saya bilang, “panitia dan dewan juri sudah kapok dibohongi oleh para peserta yang terlalu kreatif.” Bila pendapat ini disepakati. Artinya pihak panitia mengakui bahwa mereka kesulitan menyeleksi foto mana yang betul-betul alami dan foto mana yang hasil rekayasa. Atau barangkali dewan juri memang mutlak meragukan kredibilitas fotografer yang gemar memotret serangga, katak juga siput-siputan. Dan sudah pasti tuduhan begitu mengena pada saya juga. Karna hingga saat ini saya paling sering petentang-petenteng dengan lensa makro itu.

Ada juga teman yang lain bilang, “mungkin pihak panitia meragukan kebinatangan dari makhluk berjenis serangga, katak dan siput-siputan itu.” Mendengar pendapat begitu sudah tentu semua peserta diskusi yang hadir tanpa ngopi dan diselimuti aroma mulut bagai surga karna puasa, terbahak-bahak. Jika pandangan tidak percaya lagi kepada fotografer sudah menjadi anggapan umum. "Apakah lalu para fotografer yang hobi menata untuk motret serangga, katak dan siput-siputan setuju bila karya foto jenis itu dimasukan dalam kategori human interest?" Tanya seorang teman dengan nada miris.

Saya sama sekali tidak percaya bila dikatakan bahwa pihak panitia serta dewan juri meragukan kebinatangan dari 3 jenis makhluk itu. Apalagi bila ada anggapan bahwa memotret serangga, katak dan siput-siputan itu terlalu mudah dilakukan. Sehingga tidak layak dimasukan dalam kategori lomba foto bergengsi itu. Jika itu alasannya, Pasti akan banyak yang protes. Bila Anda belum pernah mencoba memotret 3 binatang itu secara alami. Maka di sini saya kasih bocoran. “Pemotretan 3 jenis mahluk itu bukan hanya susah. Tapi susah sekali!”

Semua tahu bahwa ciri-ciri satwa, hewan atau binatang itu selalu sama saja. Mereka bernafas, mereka tanggap terhadap rangsangan eksternal, mereka punya naluri berkembang biak, mereka makan dan mereka tumbuh. Mengingat 3 makhluk yang dikecualikan itu dapat digolongkan sebagai makhluk yang kecil, yang juga punya daya gerak dan hidup. Maka tingkat kesulitan dalam memotretnya sudah pasti payah.

Ataukah aturan ini sengaja dirumuskan oleh pihak panitia lantaran mereka ketakutan. Takut karya foto yang masuk akan didominasi oleh karya-karya indah penuh pesona dengan obyek serangga, katak atau siput-siputan. Kemudian pihak panitia kuatir tidak dapat mencegah pemenangnya bakal diraih oleh fotografer yang mengirimkan karya dengan obyek makhluk-makhluk pandai bergaya itu.

Kekuatiran seperti itu bisa saja disponsori oleh pihak sponsornya. Dalam hal ini ya pihak Taman Safari itu sendiri. Terbayang betapa Taman Safari akan kesulitan menggunakan karya foto pemenang sebagai ilustrasi iklan promosinya. Pasti berat jika harus mengiklankan Taman Safari menggunakan ilustrasi berupa foto serangga, katak atau siput-siputan sebagai maskotnya. Kecuali Taman Safari Indonesia ada niatan mengganti hewan-hewan andalannya dengan 3 makhluk imut yang dikecualikan itu.

Kita tidak mungkin tutup mata menyaksikan banyaknya fotografer yang keranjingan menata obyek fotonya. Jangan salah sangka dulu. Soal tata menata obyek foto memang sudah sejak dahulu kala menjadi bagian integral dari tugas seorang fotografer. Tetapi yang saya maksudkan di sini adalah bagaimana fotografer di jaman serba instan ini kedapatan dengan licik menata serta mensiasati obyek foto berupa serangga, katak serta siput-siputan itu menjadi sebuah karya foto yang seolah wild life. Bukan tidak mungkin jika nantinya tiga makhluk itu ditata, dipadu padankan dalam satu momen sedimikian rupa hingga menjadi sebentuk karya foto dengan momen maha edan.

Bahkan demi memenuhi permintaan pasar. Banyak sekali forum-forum yang mengajarkan dengan tidak gratisan berkait teknik-teknik memotret satwa jenis itu di atas meja. Semuanya serba diatur. Mulai dari pencahayaan hingga momennya. Pencapaian paling tinggi adalah ketika hasil karyanya nanti dapat mengibuli pemirsa termasuk juri. Mereka yang kagum umumnya menganggap karya foto itu adalah momen alami nan apa adanya.

Menurut para penghobinya. Teknik seperti itu adalah cara mutahir yang paling cerdas untuk menjawab keterbatasan waktu dan lokasi hunting foto. Bukankah memang harus kita sepakati bahwa fotografi itu cenderung mustahil untuk menyajikan kenyataan. Sebab fotografi punya banyak kelemahan serta keterbatasan yang di sisi lain sekaligus merupakan kelebihannya. Bahkan pada situasi yang paling nyata sekalipun, sudah pasti seorang fotografer akan menentukan sudut bidik dan ruang tajam. Bukankah pada akhirnya tindakan teknis begitu, secara tidak langsung akan memuat ide yang hendak disampaikan oleh si fotografer.

Harus diakui bahwa mengatur dan menata obyek fotografi berupa serangga, katak atau siput-siputan bukanlah perkara gampang. Teknik ini butuh latihan dan kesabaran. Namun bila berhasil mencipta sebentuk karya nyata maka ganjarannya terkadang sangat istimewa. Berkesempatan jadi bahan berita koran lokal, internasional juga kapanlagidotcom. Bahkan bila nasib sedang mujur. Besar kemungkinan sang juara begitu itu berpeluang dijadikan idola oleh banyak fotografer, baik tua maupun muda. Bukankah pencapaian seperti itu layak diperjuangkan di jaman serba instan ini.

Semoga saja pembatasan yang dilakukan oleh panitia kali ini bukan akibat dari banyaknya fotografer yang melakukan rekayasa keterlaluan terhadap obyek foto berupa serangga, katak ataupun siput-siputan. Mungkin mereka hanya menduga bahwa teknik menata atau mengatur obyek tersebut sudah melampaui batas kewajaran. Mereka mengkuatirkan si fotografer terpeleset kepada ranah upaya paksa. Kebablasan mengatur obyek sedemikian rupa hingga caranya jauh dari sikap ramah lingkungan.

Jika itu yang ditakutkan. Bukankah di Indonesia ini masih banyak fotografer yang menjadikan kejujuran sebagai mahkota terindah fotografi. Atau semangat dari kalimat itu sudah pudar akibat dimaknai berbeda oleh sang panutan. Sehingga arti kalimat yang dulunya sakral serta jadi panduan dalam berkarya fotografi kini jadi kehilangan makna.

Seperti tersiar pendapat seorang fotografer yang merasa dirinya panutan. Dia mengatakan bahwa kejujuran seorang fotografer itu jangan dinilai dari cara memotretnya. Tetapi dari bagaimana si fotografer itu nantinya jujur mengungkapkan teknik-teknik memotretnya. Tentunya pembeberan itu hanya bisa dilakukan kala sudah meraih gelar juara. Sebab bila tekniknya diungkapkan sejak awal maka hanya akan ditiru oleh fotografer lainnya. Bagi yang masih waras diharapkan jangan menyamakan pengungkapan rahasia seperti itu layaknya kasus membuka aib di tayangan infotainment.

Akhirnya. Diskriminasi ini tidak perlu dianggap sebagai pukulan bagi pecinta fotografi makro. Tetapi jangan pula dianggap sebagai sanjungan. Cukup anggaplah pengecualian ini sebagai sentilan. Bahkan saya lebih memilih mendobrak diri sendiri dengan godam introspeksi ketimbang berupaya meminta perubahan aturan itu. Toh, masih banyak lomba dan media alternatif lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan rating Anda. Apalagi sekarang ini adalah saatnya untuk melatih kesabaran. Bukankah sebentar lagi kita akan merayakan hari kemenangan. "Bagaimana bisa menang jika tidak boleh ikutan lombanya?" Teman saya mendesis gusar.

 

Bayu Sahaja

 

 

>>>>>>>>>> Jangan Baca Tulisan KataFoto Lainnya <<<<<<<<<<<

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja