joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Pameran

Email Cetak

Ketika ada orang atau kelompok yang menyebut dirinya sebagai photographer, harusnya kita maklum dan menganggap itu sebagai hal wajar dan biasa-biasa saja. Sebab siapapun yang mengoperasikan perangkat kamera lalu melakukan tindakan merekam gambar maka orang tersebut sudah selayaknya disebut sebagai fotografer.

Itu mengapa saya takjub bukan kepalang kala menyaksikan acara pameran yang digagas oleh Batam Photographer. Kegiatan menekuni hobi berfotografi tidak berhenti pada keasyikan yang berorientasi pada diri sendiri. Namun pameran ini punya sisi yang membanggakan. Betapa karya foto yang dipamerkan itu akan dijual dengan harga pantas untuk hasilnya disumbangkan pada derita aktual masyarakat di Palestina.

Sebanyak 108 karya foto terjual dalam waktu 3 hari pameran adalah suatu prestasi yang mencengangkan. Di Kepri Mall, mulai tanggal 12 September 2014 hingga penutupan acara pameran di tanggal 14 September 2014, pihak panitia menyesaki dengan beragam acara berkait fotografi. Kupas tuntas mulai dari workshop soal foto human interest, pemandangan dan juga foto makro.

Buat saya. Ukuran sukses dari sebuah pameran foto bukan semata-mata dari bagaimana antusiasnya pengunjung yang membanjiri lokasi pameran lantas berlomba membeli karya foto yang dipamerkan. Pameran ini hanya sebuah langkah kecil dari suatu proses inspiratif jangka panjang. Apalagi alasan pengunjung membeli karya foto juga beragam.

Ada yang membeli karya foto tertentu lantaran memang menyukainya. Ada yang tujuannya hanya ingin menyumbang. Tapi ada pula yang membeli karya foto tertentu karna memang dipaksa. Sudah pasti cara seperti itu adalah kelakuan saya. Meminta dengan paksa seorang teman untuk melakukan modus membeli foto milik saya sendiri.

Biar bagaimana cara demikian adalah akal saya demi sedikit menutupi rasa gengsi yang besarnya luar biasa di diri saya. Terlebih setelah melihat bagaimana karya foto milik rekan-rekan dibeli berulang kali oleh pengunjung yang antusias tanpa sedikitpun melirik ke karya foto milik saya. “Percayalah. Niat saya sepenuhnya menyumbang.” Ujar saya pelan saat modus itu ketahuan.

Panitia akan segera mencetak lagi karya foto yang telah laku terjual. Metode ini memungkinkan pihak panitia menjual sebuah karya cetak berulang kali. Hingga kendala muncul pada hari terakhir. Di mana pada hari Minggu percetakan libur dan panitia akhirnya kesulitan mencetak foto lagi. Solusi panitia sangat cerdas. Foto yang dibeli tidak boleh langsung dibawa tapi tetap dipajang untuk dapat menarik minat pembeli lainnya.

Banyak sekali pelajaran yang didapat oleh segenap panitia yang terlibat. Bahwa akan selalu ada orang-orang yang kesulitan melihat orang lain senang hingga orang yang sangat senang melihat orang lain kesulitan. Selalu ada kasak-kusuk yang muncul mengiringi suksesnya sebuah acara. Saya pribadi mencatat kasus yang membuat saya miris menyaksikannya.

Kasus muncul dari komentator kolokan yang niat baiknya saya ragukan bagi dunia fotografi. Makhluk yang punya banyak pengikut ini sangat piawai mematahkan semangat orang. Sedari awal rencana pameran ini dicanangkan, si kolokan sudah sibuk kasak-kusuk. Mengganggu upaya panitia merangkul semua elemen untuk dapat berpartisipasi.

Untungnya lebih banyak manusia yang punya akal sehat. Sehingga provokasinya yang bertujuan mengubah sudut pandang serta semangat orang untuk berpartisipasi tidak banyak efeknya. Begitulah. Semangat menggagalkan suksesnya acara tidak padam. Di tengah acara berlangsung masih juga upaya melecehkan pihak-pihak yang berpartisipasi disebarkan. Tidak puas hanya melalui komunikasi internal kelompoknya. Tapi nekad menggunakan media sosial yang berpotensi dikonsumsi banyak pihak.

Makhluk kolokan ini dalam postinganya menyesalkan adanya individu atau kelompok lain yang turut berpartisipasi pada acara pameran yang digagas oleh Batam Photographer. Menurutnya, tindakan begitu adalah kelakuan kutu loncat yang tidak punya integritas dan loyalitas pada kelompoknya.

Tentu saja provokasinya segera disambar oleh orang-orang yang berjenis kelamin batu api lupa diri. Ikutan berceloteh berkomentar cari angin kesana - ke mari untuk mencari dukungan serta penegasan. Alhasil menimbulkan polemik yang tidak juga berkepanjangan. Karna banyak juga pengikutnya yang ternyata sadar bahwa gagasan acara pameran ini sangat waras dan layak untuk didukung.

Saya yang kerap dianggap tidak waras, berpandangan bahwa acara pameran ini gila. Gila dalam arti nekad luar biasa. Sekelompok anak muda menggagas pameran demi merayakan ulang tahun yang ke dua. Mereka berniat merangkul semua elemen menyumbang karya foto untuk dipamerkan dan hasil penjualan foto nantinya di sumbangkan buat Palestina.

Mendengar gagasan itu kegilaan saya takluk dan memutuskan mendukung acara yang saya anggap waras. Bukankah harusnya memang demikian. Anda pasti setuju. Kecuali Anda memang luar biasa waras. Sebab orang gila itu pasti mendukung suatu gagasan yang waras. Dan pasti bukan orang waras jika berusaha menghasut orang gila.

Saya mengerti alasan panitia menetapkan tema yang sedemikian luas. Nusantara Dalam Lensa adalah tema karet yang bisa dimekarkan ke mana-mana. Namun konstruksi berpikir seperti itu tidak harus dihakimi dengan celoteh yang tidak punya muatan niat mengembangkan cara sehat berpikir yang seharusnya. Meskipun pada usia dua tahun, seharusnya Batam Photographer berani untuk berpameran dengan tema yang lebih spesifik.

Lepas dari semua persoalan kami percaya. Segenap anak muda yang terlibat dalam kepanitiaan ini telah belajar banyak dan banyak belajar pada tiap proses pameran ini. Belajar menilai komentar mana yang bernada positip dan komentar mana yang bermuatan negatip serta hasutan. Atau sekedar menilai orang yang numpang tenar dengan koar-koar tanpa pemahaman.

Mereka tentunya juga belajar bagaimana menempatkan diri secara pas ditengah-tengah pergaualan penuh basa-basi yang tega memelintir segalanya. Belajar bagaimana sebuah team work itu tidak mengijinkan adanya satu orang yang merasa paling pintar atau sibuk sendirian. Jika hal itu terjadi maka ada dua kemungkinan yang jelas terpampang.

Kemungkinan pertama. Orang yang merasa paling pintar dan sibuk sendirian itu sedang mempermalukan dirinya sendiri. Biasanya jenis itu akan kesulitan mencari tempat bagi dirinya untuk dapat diterima dalam kerja bersama berikutnya. Kemungkinan ke dua, team work ini sedang digiring oleh oknum itu menuju tepi jurang.

Dari berjalannya tahapan kepanitiaan kecil ini. Semua orang yang terlibat dapat saling menilai peran dan fungsi masing-masing anggota. Briefing-briefing yang dilakukan pada setiap akhir hari adalah upaya mengkoreksi demi memperbaiki penampilan di hari berikutnya. Selalu akan ditemukan masalah-masalah buruk. Tetapi panitia tidak boleh terfokus pada yang sudah berlalu.

Ijinkan proses belajar dan regenerasi terus berjalan. Berikan ruang dan waktu hanya bagi mereka yang ingin belajar, berproses dan maju bersama. Perbaiki yang menyimpang. Benahi dan terapkan aturan demi membereskan kesemerawutan. Tinggalkan dan singkirkan bibit penyakit sedari awal. Karna memelihara penyakit itu merugikan.

Saya percaya bahwa anak muda itu bukan botol kosong yang harus diisi. Anak muda adalah kompor yang harus dinyakalan. Bersama pembina, jaga nyala apinya supaya tidak membakar dapur kreasi yang Anda punya. Selamat ulang tahun yang ke 2. Bravo Batam Photographer!

Bayu Sahaja

>>>>>>>>>>>>> Jangan Baca KataFoto Sebelumnya <<<<<<<<<<<<<<

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja