joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Curang

Email Cetak

Bukan semata-mata karna tidak ada aturan. Atapun adanya jaminan untuk boleh berkreatifitas sebebas-bebasnya yang membuat orang berduyun-duyun menyukai fotografi. Tetapi lepas dari itu semua. Fotografi terbukti merupakan hobi yang menarik, berkelas dan penuh kreatifitas. Siapapun dijamin kelihatan lebih cerdas ketika fasih pegang kamera.

Itu mengapa semua orang merasa bangga ketika pegang kamera. Tua dan muda berlomba-lomba untuk memiliki dan coba pahami perangkat perekam gambar ini. Ungkapan the man behind the gun seperti terpinggirkan ketika industri bersaing tanpa henti mencipta produk-produk canggih.

Ada harga ada kualitas adalah suatu kepastian di era kapitalis. Produsen cerdik memproduksi kamera dengan begitu banyak ragam. Selalu ada kelebihan sekaligus kekurangan pada tiap produk baru yang diluncurkan. Ini bukan curang. Itu adalah strategi dagang. Tinggal konsumen yang dituntut untuk pintar menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan.

Beragam lomba foto yang digelar ikut meriuhkan suasana. Ada panitia tidak berkelas dan sembarangan melanggar etika tanpa beban. Nekad menggelar lomba foto dan selalu saja ada yang terjebak jadi peserta juga sponsornya. Kumpulan panitia begitu selalu punya akal untuk menghindarkan hadiah jatuh bukan pada komplotannya.

Berlandaskan semangat adil dan merata. Panitia yang curang biasanya berbagi keuntungan pada orang dalam yang terlibat. Keuntungan panitia meliputi kelebihan fasilitas dan dana dari sponsor, uang peserta yang masuk melalui biaya pendaftaran serta hadiah lomba yang diam-diam kembali ke tangan mereka sendiri sesuai rencana.

“Itu namanya kerjasama bagi hasil!” Ujar teman saya menimpali dengan nada datar. Sindiran begitu akan terasa menyakitkan telinga. Terutama jika Anda termasuk salah satu pelaku yang gemar menggelar lomba foto dengan modus begitu.

Ada yang terasa lebih getir. Beberapa orang mengelar semacam ajang pemilihan idola di dunia fotografi. Sayangnya mekanisme pemilihan idola itu, ukurannya terbelenggu hanya pada catatan prestasinya saja. Idola tahunan itu akhirnya selalu akan digondol oleh yang telah banyak makan piala ataupun makan piagam penghargaan lomba foto saja.

Panitia tidak peduli dengan bagaimana cara calon idola itu berkreasi dan caranya meraih prestasi. Bagi mereka yang penting dari calon idola adalah pialanya banyak dan penghargaannya juga banyak. Apalagi bila calon idola tersebut tercatat punya banyak jam terbang dalam menyebarluaskan tata cara memotret sesuatu. "Bagaimana mungkin pihak juri hanya mementingkan kuantitas tanpa peduli kualitas dan substansi." Teman saya ngoceh protes sok pintar.

Menurut saya pribadi. Memilih idola dengan sistim penilaian seperti itu akan terjebak pada pilihan subyektif dan ngawur. Bagaimana mungkin para pemirsa harus tutup mata dan fokus hanya pada prestasinya saja. Tanpa boleh mengkritisi bagaimana caranya calon idola itu berkreatifitas serta caranya meraih prestasi-prestasinya itu.

Bukankah seharusnya, ketika memilih calon idola untuk kepentingan bersama, kita harus meneliti secara seksama latar belakangnya. Bukan sekedar berkutat pada banyaknya prestasi yang pernah diraihnya. Tapi juga harus menilik bagaimana caranya ia berkreasi dengan fotografi itu sendiri. “Apa jadinya bila terpilih idola yang gagal paham etika.” Teman yang duduk di sebelah saya berujar dengan nada bingung.

"Sebab semua orang tahu. Bahwa guru yang agung itu menginspirasi. Sosok guru agung itulah yang selayaknya dijadikan idola. Jangan pula yang mahir menipu malah kita gadang-gadang jadikan idola.” Teman satunya yang wajahnya menyebalkan ikutan bicara.

Makin getir ketika menyadari bahwa yang mengangkat diri sendiri sebagai dewan juri itu, yang kemudian merasa berhak menentukan siapa yang layak jadi idola pada tiap tahunnya itu, berisikan orang-orang yang suka menghalalkan segala cara. Namun jangan ragukan reputasi mereka sebagai fotografer hebat yang notabene mahir mencuri ide.

“Bukankah memang begitu! Fotografer pemula meniru dan fotografer hebat itu mencuri ide.” Teman menyebalkan tadi bergumam menguatkan pendapat jadul tersebut.

Bagi para pemburu hadiah lomba, jangan pernah patah semangat. Akan selalu hadir panitia berkelas penuh gengsi yang siap dengan hadiah berlimpah serta kebanggaan abadi. Biasanya panitia begitu berlatar organisasi mapan dengan pengalaman panjang mengelola urusan lomba foto.

Selain butuh modal yang tidak sedikit. Pengalaman merupakan aset penting untuk sukses mengelola lomba foto. Apalagi yang targetnya melibatkan banyak peserta. Panitia harus siap menghadapi peserta pintar. Kita maklum jika peserta itu selalu saja lebih pintar dan bijaksana dari siapapun yang ada di dalam kepanitiaan.

Idealisme tiap orang itu bermacam-macam. Berdasar pengalaman dan pendidikan, tiap orang punya keyakinannya sendiri untuk menganggap pemahamannya benar dan mengganggap keyakinan orang lain itu ngawur. Untuk itu tiap lomba foto wajib punya aturan dan tata cara yang unik untuk mengawal tahapan pelaksanaan lombanya.

Meskipun di jaman internet sekarang ini semua makhluk di dunia sudah yakin. Bahwa mengirim file melalui email ataupun mengunggah file foto langsung pada halaman website yang disediakan merupakan cara praktis. Tapi masih banyak juga yang meyakini bahwa hasil akhir sebuah karya foto adalah pada hasil cetaknya.

Itu mengapa masih banyak orang yang mensyaratkan penilaian lomba foto itu wajib dilakukan pada hasil cetak fotonya. Alhasil keterlibatan fotografer pada sesi cetak foto menjadi penting. Bahkan anjuran tata cara mengirim hasil cetakan foto untuk tujuan lomba yang beredar di internet banyak dikunjungi orang.

Ketika panitia serta juri lomba foto makin professional. Maka sudah pasti para peserta lomba berada satu langkah di depannya. Sebab peserta lomba foto, sejak dahulu kala hingga jaman sekarang selalu dituntut untuk lebih cerdik dan lebih strategis mengakali juri serta menentukan. Lomba mana yang harus diikuti dan foto mana yang harus dikirim.

Jika memang dibutuhkan. Boleh juga melibatkan lembaga-lembaga survey untuk ikut memberi masukan atau saran-saran komprehensif berdasar survey nyata. Bukan berdasar survey asal-asalan berlandaskan semangat asal bapak senang. Seperti modus quick count pemilu yang bikin bingung dan menghebohkan kemarin itu.

Ketika akhirnya Anda memutuskan untuk mengikuti suatu ajang lomba foto. Selalu pastikan untuk menghindari rencana jalan curang. Jauhi anjuran pakar tipu yang bilang, “curang boleh dilakukan asal yakin tidak akan ketahuan.”

Berkait lomba foto, ada 10 saran tulus dari saya. Anjuran ini jangan Anda telan bulat-bulat. Pertimbangkan matang-matang sebelum mengikutinya. Sebab semua orang tahu kalau saya belum pernah jadi juara lomba foto dengan cara tidak melanggar aturan.

1.    Pastikan bahwa lomba fotonya memang benar dan terbukti ada. Pastikan pula batas waktu pengiriman karya foto peserta belum ditutup.
2.    Baca dengan cermat aturan dan tata cara lomba foto tersebut. Susunan juri perlu diketahui untuk menyesuaikan foto dengan selera juri. Jangan paksakan diri mengikuti lomba jika aturan dan susunan juri tidak Anda sukai.
3.    Pastikan bahwa karya yang Anda kirim bukan hasil karya foto orang lain.
4.    Sesuaikan karya foto Anda dengan tema yang ditetapkan panitia.
5.    Kecuali Anda merupakan jenis orang yang sulit malu. Sangat disarankan untuk menghindari memberi keterangan palsu pada karya foto Anda itu. Sebab di jaman gombalisasi sekarang ini ada anjuran bijak, “bila tidak ingin ketahuan ya jangan lakukan!"
6.    Bila Ada orang yang membantu di saat pemotretan ataupun membantu Anda saat melakukan editing komputer, tidak perlu Anda sebutkan siapa orangnya. Semua peserta lomba foto menutupi informasi itu.
7.    Demi mengurangi pesaing sebaiknya informasi soal lomba tersebut Anda tutup rapat-rapat. Semakin sedikit peserta semakin besar kemungkinan Anda jadi pemenang.
8.    Jangan gunakan software atau plugin pengolah gambar bajakan. Hal ini penting untuk koar-koar nantinya bila ada yang mencuri atau menggunakan karya foto Anda tanpa ijin. Jangan sampai Anda ribut soal pencurian itu sementara Anda sendiri adalah pembajak.
9.    Bila sudah jadi peserta yang kemudian masuk final dan berpotensi tidak jadi pememang, jangan pula Anda mundur dari proses tersebut. Apalagi alasan mundur dengan membeberkan bukti-bukti kecurangan serta pelanggaran yang dilakukan oleh diri Anda sendiri. 
10.    Segera kirim karya foto Anda tersebut lalu lupakan. Semoga Anda jadi pemenang dengan cara yang benar. Supaya kelak Anda bisa berbangga dan menginspirasi kita semua.


Akhir kata. Dari lubuk hati yang paling dalam dan tanpa syarat apapun. KataFoto mengucapkan selamat hari raya. Mohon maaf lahir dan batin.


Bayu Sahaja

 

 

>>>>>>>>>> Jangan Baca Tulisan KataFoto Lainnya <<<<<<<<<<<

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja