joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Waktu

Email Cetak

Tanggal 22 Juli semakin menjadi penting buat saya. Bukan hanya karena pada tanggal 22 Juli 2014 ini KPU mengumumkan pemenang pemilu Capres dan Cawapres. Namun pada tanggal yang sama ada beberapa peristiwa istimewa kehidupan yang menyelinap dan jadi catatan di ruang hati saya.

Puncak kegembiraan keterlibatan banyak orang pada pesta demokrasi kali ini adalah tampilnya nama pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kala. Selaku penerima mandat terbanyak masyarakat pemilih Indonesia. Memang pesta demokrasi kali ini terasa berbeda. Kemunculan hanya dua pasang calon mengakibatkan lapisan masyarakat seolah terbagi dua.

Golongan artis terbagi dua gaya. Para fotografer terbagi dua komposisi. Penyanyi terbagi dua irama. Suami dan istri berbeda goyangan. Karyawan satu perusahaan berbeda pandangan. Ini semua wajar dalam kancah kampanye pada budaya yang menganut paham demokrasi. Namun tetap harus ada aturan yang ditegakan dan dijadikan pegangan.

Seperti halnya di dunia fotografi. Semua boleh jadi peserta lomba foto on the spot selama sudah daftar dan barangkali telah bayar. Semua boleh saling senggol, menghalangi sudut bidik pesaing ataupun mengganggu konsentrasi fotografer lain secara halus di saat melakukan sesi pemotretan lombanya. Namun semua peserta pasti tahu bahwa yang paling tidak boleh adalah main curang.

Beberapa tindakan pelanggaran yang mungkin dilakukan oleh para peserta lomba foto. Misalnya ada peserta yang dapat bocoran tema lalu membuat karya foto terlebih dahulu jauh hari sebelum tema lomba ditetapkan. Atau, panitianya sendiri yang jadi juaranya. Ada pula kasus calon pemenang yang membatalkan diri jadi peserta lomba di saat menjelang pengumuman pemenang.

Mungkin tindakan demikian bisa dilakukan karna peraturan tidak mengatur segalanya secara detil. Panitia menganggap para peserta telah mengerti dan paham soal batasan etika. Kasus begitu memang tidak melanggar hukum tetapi terasa melanggar etika. “Sakitnya itu di sini!” ujar teman saya menambahkan sambil menunjuk dadanya yang rata.

Di puncak acara yang telah dijanjikan, KPU sebagai lembaga pemerintah mengumumkan pemenang pemilu. Menanggapi pengumuman hasil penghitungan tersebut masih juga ada yang tega mencoba menafikan segala pengorbanan di pesta demokrasi yang banyak menelan uang dan energi rakyat ini. Simpati jadi hilang sama sekali ketika yang melakukannya adalah salah satu kandidat yang sebelumnya juga mencalonkan diri.

Jujur saja. Banyak orang yang sudah lelah mengikuti pesta demokrasi kali ini. Sudah saatnya kita bersatu kembali untuk bersama-sama membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi. Ijinkan kami rakyat pada umumnya untuk membereskan bekas dan sisa-sisa pesta yang seperti biasa ditinggalkan begitu saja oleh para penggembira.

Sudah pasti akan muncul banyak sekali alasan dari pihak yang kalah. Itu lumrah. Tapi sadarlah bahwa ini adalah bagian dari pelajaran berdemokrasi. Hanya pada saat kampanye tokoh yang terlihat gagah dan pantas memberikan wejangan pada masyarakat pendukungnya. Menggambarkan sikap satria yang begitu layak jadi pilihan. Katanya siap menang dan siap kalah. Kini merengek tidak menerima kekalahan.

Ternyata masyarakat tidak bisa dibodohi lagi. Masyarakat hanya pura-pura tidak pintar ketika menerima amplop bagi-bagi uang. Money politic adalah bagian dari cara mereka-mereka yang masih menganut paham politik transaksional. Terima uangnya dan jangan pilih orangnya. Masyarakat terbukti ogah bila ajakannya bikin rusuh yang berujung pada kekacauan yang mengakibatkan runtuhnya ekonomi dan banyak hal lainnya.

Kita tahu orang menetapkan pilihan pada salah satu kandidat hanya karna dua alasan. Alasan pertama adalah semangat emosional. Pelakunya berpihak pada tokoh tertentu berdasar semangat primordial. Memilih hanya berdasar kesamaan daerah, kusukuan, golongan serta kekeluargaan. Alasan ke dua adalah semangat rasional. Dalam hal ini pelaku menempatkan alasan emosional tadi jauh di bawah dari alasan-alasan masuk akal lainnya. "Ada yang bilang bahwa Anda itu jenis yang pertama." Teman saya menuduh sembarangan.

Saya tidak ingin menambah kebosanan pembaca KataFoto dengan terus berkutat pada urusan pemilu. Jadi saya beralih pada tanggal 22 Juli ini.  Kami, segenap staf, karyawan dan sahabat melaksanakan acara buka puasa bersama. Dilangsungkan di atap sebuah hotel tengah kota. Tema acaranya Indahnya Kebersamaan. Seperti acara senada pada umumnya. Dibuka dengan kuliah tujuh menit yang dibawakan oleh ustad gaul nan humoris dan ditutup dengan acara narsis foto-foto.

22 Juli kali ini juga penting. Tersiar kabar. Salah satu anggota kami terbaring di rumah sakit dan tidak sadarkan diri akibat kecelakaan jalan raya. Ini kisah tragis yang terjadi lantaran kenakalan dan pengabaian terhadap segala hal. Diberikannya kebebasan digunakan untuk melanggar aturan. Girang akibat pergaulan merembet pada kenakalan. Berkendara kebut-kebutan, tanpa surat ijin yang legal dan tanpa pelindung keselamatan.

Ketika kecelakaan terjadi yang tersisa akhirnya adalah duka dan penyesalan mendalam pada yang jadi korban dan keluarganya. Tapi hidup juga jalan terus. Yang terlibat erat pada peristiwa tragis namun selamat dapat asyik terus eksis. Melanjutkan posting-posting di jejaring sosial berkait eksistensi dirinya. Sambil lalu ucapkan doa semoga lekas sembuh pada rekan yang jadi korban.

Saya sulit paham pada kelakuan begitu. Adakah di dalam hati mereka yang terlibat terbersit sedikit rasa penyesalan soal kelakuannya. Betapa luka serius di kepala pada korban adalah bencana. Kisah yang hingga nanti selalu mengiris duka, membebani dan menggerogoti biaya berkepanjangan. Ini peristiwa menyakitkan yang efeknya berkelanjutan. Semoga memberi pelajaran pada siapapun yang sadar dan membuka mata.

Selalu ada keseimbangan pada kehidupan. Pada tanggal 22 Juli ini juga menjadi hari yang istimewa. Bangun tidur tiba-tiba saya tidak tertarik lagi pada rokok. Dan yang paling ajaib, saya dipertemukan pada dua teman lama. Teman masa lalu yang kisah ceritanya telah usang dan tidak aktual lagi karna terjangan waktu. Namun entah mengapa sosok itu selalu penting buat saya.

Bohong bila selama ini saya tidak berupaya mencarinya. Bermodal nama lengkap dan tanggal keramat yang selalu diingat, saya kerap berusaha mengetikan kata kunci itu pada mesin pencari yang menjadi fasilitas di jejaring sosial. Semua orang tahu. Bukan perkara mudah bila yang kita cari adalah nama pasaran. Biasanya akan muncul deretan nama yang kita yakin bahwa itu bukan yang kita idamkan.

Hingga satu hari sebelum 22 Juli lalu. Muncul satu nama yang identik dengan segala catatan yang ada di benak. Nama kotanya cocok dan tanggalnya sama. “ah, ini pasti dia orangnya.” Gumam saya penuh keyakinan. Seperti bagaimana Archimedes meneriakan kata eureka ketika mencelupkan diri masuk ke dalam bak mandi.

Saya sangat meyakini bahwa segalanya pasti berubah bila digilas sang waktu. Saya wajib menghormati apapun situasi dan kondisinya. Satu hal yang membuat saya masih heran. Mengapa di tanggal 22 Juli selalu ada peristiwa penting yang membuat saya harus belajar soal kehidupan. Atau ini adalah jalan yang dibentangkannya untuk saya belajar tentang keperkasaan waktu. Untuk belajar mengingat, menemukan lalu melupakannya kembali.  


Bayu Sahaja

 


>>>>>>>>>> Jangan Baca Tulisan KataFoto Lainnya <<<<<<<<<<

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja