joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Permata

Email Cetak

“Huss! Itu kaki jangan naik ke atas meja ya!” Ujar salah satu orang tua yang saat itu sedang kumpul. Saya yang datang karna dimintakan tolong untuk membeli rokok langsung kaget. Bagaimana tidak. Manalah mungkin saya berani naikan kaki ke atas meja tempat para orang tua sedang duduk berkumpul. Sungguh itu tangan saya. Bukan kaki seperti yang dikatakan oleh salah satu orang di sana.

Akhirnya saya mengerti dan ikut tertawa ketika mengetahui mengapa tangan saya dikatakan sebagai kaki. Sebab di jari tangan saya tidak melingkar cincin berhiaskan batu seperti yang semua orang pakai pada pertemuan itu. “Oh, itu tangan ya. Maaf ya. Tadi Om kira itu kaki. Sebab tidak ada cincinnya”. Katanya sambil terkekeh.

Memang saya yang dijadikan bahan olokan. Namun efek dari kalimat tersebut terasa mengena pada siapapun yang hadir tanpa menggunakan cincin. Sepertinya kisah masa kecil itu yang turut mendorong saya untuk mengenal dan akhirnya menyukai batu permata.

Bukan suatu kebetulan bila letak rumah saya tidak jauh dari industri kreatif bebatuan berpusat. Bongkah-bongkah batu alam yang punya potensi diperjual belikan dengan harga yang lumayan. Nyaris pada tiap kesempatan di hari libur sekolah saya menyempatkan diri menyatroni tempat tersebut. Memilih yang bagus tapi murah lalu memolesnya untuk nanti menjualnya atau mengoleksinya.

Deretan pedagang yang berkumpul di lapangan berjejer menjajakan aneka batu permata. Beraneka warna bebatuan mulai ukuran yang besar hingga kecil. Biasanya ditempatkan pada nampan-nampan berisi air. Para pembeli dengan cermat meneliti potongan-potongan batu. Dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman untuk menilai batu saat belum dipoles.

Senter kecil menjadi perlengkapan para penjual. Umumnya para pembeli juga melengkapi dirinya dengan senter kecil serta semacam kaca pembesar. Kegunaannya adalah untuk menilai meneliti kualitas, kejernihan serta potensi batu bila dipoles nantinya.

Pada masa itu para tukang gosok batu masih banyak yang menggunakan perangkat manual. Alat sederhana yang menggunakan onderdil sepeda. Diputar dengan satu tangan dan tangan lainnya terampil memoleskan batu yang hendak diasah pada putaran gerinda atau amplas yang ikut berputar.

Selalu ada keberuntungan bagi orang-orang yang berusaha. Pengalaman dan keahlian menilai potongan batu yang mulanya terlihat seperti kerikil biasa nantinya menghasilkan sebuah permata yang indah. Entah itu berupa mata cincin, liontin, gelang, ukiran ataupun kepala ikat pinggang.

Terkadang terdapat gambar-gambar tertentu pada batu yang akhirnya meningkatkan harga jual hingga tidak terjangkau kantong orang biasa. Seperti tulisan Arab, gambar ikan, anjing atau simbol tertentu. Terkadang penemuan begitu terjadi secara kebetulan. Namun pengalaman juga memberi andil untuk dapat menilai potensi sebuah batu saat masih berupa potongan biasa.

Kesibukan selalu dimulai sejak pagi hari. Lapak-lapak pedagang batu yang menggunakan meja-meja sederhana menggelar dagangannya. Pada masa itu bahkan teriknya panas matahari siang hari tidak mengusik kenikmatan para pembeli untuk bertransaksi. Mereka berkumpul pada satu lapangan. Kini tempat itu telah berubah dan tersohor dengan sebentuk bangunan megah bernama Jakarta Gems Centre.

Bangunan tempat berkumpulnya para pengusaha industri kreatif di bidang batu diresmikan oleh Gubernur DKI saat itu, Fauzi Bowo pada tanggal 12 mei 2010. Pasar yang diberi nama Jakarta Gems Center Rawabening itu merupakan pusat batu aji terbesar di Indonesia. Ada 1.355 tempat usaha yang terdiri dari 897 kios, 372 counter, 56 kios makanan dan minuman serta 30 kios ikan hidup dan ikan hias.

Jakarta Gems Centre adalah tempat beragam batu asal penambangan lokal dan juga luar negeri berkumpul. Ketenarannya sudah dikenal hingga manca negara bahkan dikenal sebagai pasar batu terbesar di Asia. Lokasinya tepat berada di depan stasiun kereta api Jatinegara Jakarta.

Kini ada batuan yang sedang naik daun. Warnanya hijau dan ada juga hijau kebiruan. Batu-batu dengan warna indah ini mampu menarik minat banyak penggemar batu. Asal batu itu dari Indonesia bagian timur. Batu ini dikenal dengan nama Bacan. Padahal lokasi penemuan dan penambangan batu Bacan ini berada di daerah Kasiruta yang letaknya sebelah barat Pulau Bacan.

Penamaan Bacan erat kaitannya dengan kesultanan Bacan yang mulanya di bangun di wilayah Kasiruta. Sehingga penamaan batu tersebut terlanjur dikenal luas dengan sebutan batu Bacan. Tentu saja penemuan batu bacan ini menjadi anugerah bagi masyarakat di sana. Industri kreatif terus tumbuh mengiringi permintaan pasokan batu hijau yang juga dikenal sebagai giok Indonesia.

Di pasaran beredar banyak macam batu Bacan. Dua yang paling populer adalah batu Bacan Doko dan Batu Bacan Palamea. Penamaan ini jelas bersumber dari di mana tempat penggalian bahan batu tersebut dilakukan. Seperti telah disampaikan bahwa tempat penambangan adalah desa Kasiruta, desa Doko, desa Palamea dan desa Akelamo.

Meski kurang populer batu Akelamo atau sering disebut batu Bisori, kualitasnya juga cukup bagus. Kebanyakan batu Bacan memiliki satu warna dasar, yakni hijau. Banyak juga yang menggemari jenis hijau cincau. Jenis yang bila dilihat sekilas warnanya seperti hitam namun bila disenter warnanya hijau. Dari semua jenis bacan diyakini bahwa Bacan Doko yang lebih cepat mengalami perubahan menjadi kristal. Itu mengapa banyak orang lebih menyukainya.

Mulanya saya tidak percaya kalau batu ini bermetamorfosis. Namun setelah membeli dan mengalaminya sendiri saya jadi percaya. Batu Bacan memang mengalami perubahan warna dari warna hijau muda menjadi hijau tua. Proses pengkristalan batu diyakini akan semakin cepat seiring digunakan. Baik sebagai mata cincin ataupun liontin.

Ada batu yang awalnya memiliki bintik-bintik hitam akhirnya memudar. Warnanya semakin memukau. Banyak beredar informasi mengenai teknik-teknik untuk membuat batu Bacan lebih cepat berubah. Maka di pasaran beredar beragam penamaan pada produk dagangan tersebut.

Diistilahkan sebagai batu bacan doko rawatan atau batu bacan palamea rawatan. Sebutan rawatan itu mengartikan bahwa batu tersebut masih butuh proses untuk dirawat terlebih dahulu hingga nantinya jadi indah.

Anjuran tata cara merawat batu Bacan banyak beredar di internet. Ada yang menganjurkan untuk merebusnya, menggoreng, menjemur, merendam dalam cairan alami atau kimia tertentu, dioles dengan minyak angin, memasukannya dalam kulkas serta beragam cara-cara lain yang bikin banyak orang tertawa geli.

Saya lebih percaya pada cara dan proses alami. Menggunakannya di waktu siang dan merendamnya dalam air kala malam hari diyakini akan mempercepat proses indahnya batu tersebut. Sebab batuan apapun jenisnya adalah karya alam. Dan tentu saja alam membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memproses sebuah bongkah batu hingga mengkristal dengan warna yang indah.

Ada juga yang mengkaitkan batu-batu perhiasan tersebut dengan hal-hal mistis nan gaib. Bahkan tentara-tentara di jaman klasik selain memanfaatkan batuan permata sebagai penghias mahkota juga hiasan pada perlengkapan perangnya. Diketahui ada di antara mereka yang menyayat dan menanam batu dibawah kulitnya untuk alasan ketenangan, kewibawaan ataupun keberanian.

Sudah pasti saya menyukai dan mengoleksi beragam batu-batu indah bukan karna segala alasan tersebut. Kekaguman saya terhadap batu permata adalah pada keindahannya. Pada rahasia bagaimana alam menempanya secara alamiah. Kemudian tangan-tangan terampil nan kreatif penuh pengorbanan menggali lalu memproses sebongkah batu hingga menjadi perhiasan berupa mata cincin, liontin, gelang dan lainnya yang indah tak terbantahkan.  “Mari kita hargai semua itu dengan nilai tukar yang pantas”. Ujar teman saya yang berbisnis jual beli batu mulia.

Jangan lagi ragukan bahwa kesukaan orang terhadap batu adalah manusiawi. Karna sejarah mencatat kisah peradaban manusia sangat dekat, percaya, suka dan mengagumi batu sejak jaman dahulu kala. Bahkan jauh hari sebelum manusia jaman sekarang berlagak yakin dan percaya bahwa kekuasaan bisa diraih dengan cara demokrasi melalui pemilu.

“Di jaman klasik manusia percaya bahwa kekuasaan hanya dapat diraih dengan kekerasan dan juga perang.” Ujar teman saya sambil menggosok cincin batu Bacannya dengan potongan kulit bekas dompet. Batu Bacan miliknya itu hingga kini belum juga terpancar aura keindahannya.


Bayu Sahaja

>>>>>>>>>> Jangan Baca KataFoto Lainnya <<<<<<<<<<

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja