joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Hormat

Email Cetak

Saya adalah jenis orang yang masih kesulitan membedakan apa itu penghormatan dan apa itu kehormatan. Itu mengapa ketika ada teman yang rela berbagi pengetahuan soal itu saya manggut-manggut coba mengerti.

“Penghormatan itu bisa didapat dengan upaya paksa.” Ujar teman itu serius. Lanjutnya, “sedangkan kehormatan didapatkan dari hal positip apa yang sudah dilakukannya.” Penjelasan ini makin memudahkan saya untuk lebih memahami gencarnya kampanye yang makin panas jelang pemilu presiden ini.

Banyak dari teman-teman yang dulunya tidak pernah ambil pusing soal hak dan kewajibannya sebagai warga negara, kini ikutan sibuk kampanye. Bahkan ada yang jadi pandai orasi. Mungkin lantaran terpapar oleh gencarnya kampanye yang dilakukan para tim sukses. Baik yang disebarkan melalui media televisi, koran, radio ataupun jejaring sosial berbasis internet.

Dulunya saya meyakini bahwa tiap manusia itu punya filter yang mampu menyaring mana informasi yang baik dan mana informasi yang tidak baik. Namun keperkasaan media nampaknya punya kelebihan yang dahsyat. Ia mampu mencekoki pemirsanya untuk akhirnya percaya segala apa yang disiarkannya.

Hanya dua kemungkinan hingga akhirnya seseorang dapat terpapar pesan-pesan yang disiarkan oleh suatu media. Cara kerjanya seperti juga iklan-iklan produk yang ditayangkan di berbagai media. Makin gencar serta luas cakupan iklan itu beredar maka makin besar juga kemungkinan orang yang akan terpapar iklan tersebut.

Kemungkinan pertama. Orang tersebut bersikap pasif. Menerima saja segala informasi yang menerpanya. Hal ini dimungkinkan oleh akibat hilangnya remote televisi di rumahnya. Sehingga pesan-pesan apapun yang disiarkan oleh media televisi yang terpaksa ditontonnya itu lama-kelamaan tertelan juga. Dalam kasus seperti ini saya merasa beruntung. Sebab televisi di rumah saya sudah mati total sejak memasuki musim kampanye. Sehingga saya aman dari jangkauan kampanye hitam yang terkutuk.

Kemungkinan ke dua, si pemirsanya sendiri yang bersifat aktif. Dengan berbagai cara, niat dan alasan dia menerpakan diri pada segala sumber informasi yang memuat berita-berita mengenai tokoh yang diidolakannya. Tentu saja dengan menyaring berita positipnya saja. Sedangkan berita buruk soal idolanya itu diabaikannnya. Cara ini sekaligus meminimalkan masuknya informasi positip mengenai tokoh lainnya.

Saya tidak mengetahui dengan pasti Anda itu jenis yang mana. Namun satu hal yang pasti. Ketika Anda kemudian menjadi tidak suka ataupun benci kepada seorang tokoh tertentu ataupun pendukung tokoh yang berbeda dengan Anda. Maka ada kemungkinan bahwa Anda adalah korban kampanye hitam. Jenis kampanye yang semangatnya hanyalah menyebarkan kebencian saja. Membuat korban kampanyenya tidak lagi gembira melihat perbedaan.

Sebab pada dasarnya tokoh manapun yang kini tampil sebagai calon pemimpin adalah putra terbaik bangsa ini. Bila mereka bukan orang yang baik maka tidak mungkin mereka mampu melalui proses saringan yang sungguh ketat. Sebagai tokoh mereka pasti punya citarasa yang layak untuk jadi pemimpin. Tinggal akhirnya rakyat menentukan mana yang menurut mereka paling layak jadi pemimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Melihat kenyataannya. Seseorang dianggap layak menjadi pemimpin pada masyarakat yang sedang beranjak dewasa dan sedang lucu-lucunya, biasanya dipilih lantaran beberapa alasan. Seperti karena orang tersebut kaya raya, atau punya gelar akademisi, atau pernah jadi juara, atau keturunan pemimpin, atau dianggap sakti.

“Kamu pilih tokoh yang itu apa alasannya? Sebab pilihanmu kali ini koq berbeda dengan kepribadianmu. Pilihanmu kali ini hanya meyakinkan aku kalau jelang pemilu selalu saja pada lupa tentang budaya dan sejarah.” Teman saya berujar dengan nada tidak enak. Saya diam saja karna maklum pada profesi teman saya itu. Dia cari makan dengan bekerja sebagai tim sukses salah satu calon presiden.

Hingga keluar dari bilik suara usai pencoblosan nanti. Saya bertekad tidak mengumbar kepada umum mengenai siapa yang saya pilih. Saya memilih menikmati peran saya sebagai rakyat biasa pada umumnya. Menjalankan kedaulatan saya dengan gembira dan damai untuk mengikuti pesta demokrasi yang berinti pada pemilu. Sebagai warga negara yang baik. Sesuai yang diamanatkan oleh negara demokrasi. Yaitu langsung, umum, bebas, rahasia dan jujur.

Banyak orang yang akhirnya jadi muak dengan gaya kampanye hitam yang keterlaluan. Terlebih korban-korban propaganda terkadang pengetahuannya menjadi sudah melebihi yang maha tahu. Padahal modal ocehannya hanyalah berita kampanye hitam yang jauh dari fakta kebenaran. Namun berbekal kacamata kuda tetap saja mereka mempertaruhkan reputasinya untuk tetap semangat membela.

Di satu sisi saya kerap menetapkan diri untuk maklum pada mereka yang melakukan semua itu jika alasannya cari makan. Maka dengan terpaksa saya kerap memberikan kesempatan pada orang yang cari makan itu untuk sekedar koar-koar. Umumnya para juru kampanye amatir itu akan memanfaatkan waktu untuk mengeluarkan uneg-unegnya berkait kehebatan tokoh pilihannya. Sembari mencibir kelemahan tokoh yang dianggapnya tidak bagus.

Pada banyak kasus. Toleransi yang saya berikan pada orang-orang yang maju tak gentar membela yang bayar tadi, untuk mempromosikan kandidat yang didukungnya selalu saja berbuah menyebalkan. Sebab materi ocehan yang digunakan berbasis kampanye hitam semua. Modal omongannya hanyalah desas desus berbasis prasangka yang berpotensi meresahkan bila dibiarkan berkembang.

Jaman ini memang makin banyak orang yang merasa dirinya melek informasi. Padahal informasi yang bisa ditelannya hanyalah potongan-potongan kalimat yang bila dibaca lengkap masih panjang sebab, akibat, waktu dan tempatnya. Apalagi orang-orang dangkal seperti saya. Yang selalu saja terjebak pada semangat streotip. Seenaknya memberikan cap tertentu tanpa dasar yang jelas pada seseorang atau kelompok tertentu.

Orang-orang yang kenyang gosip tapi lapar pengetahuan akhirnya selalu saja jadi korban. Tidak sadar kalau dirinya hanyalah rakyat biasa. Lupa diri bahwa hak paling istimewa dari dirinya pada pesta demokrasi ini adalah boleh ikutan memilih. Sadarlah bahwa fungsi Anda saat ini adalah juri. Jadilah juri yang baik. Ijinkan pada semua kandidat beserta orang-orang yang nantinya kebagian kekuasaan itu untuk umbar janji dan pamer kelebihan.

Percayalah bahwa inti dari masa kampanye ini adalah bagi-bagi kue kekuasaan. Itu mengapa sebelum menetapkan dukungan lihat-lihat juga orang di sekeliling dari calon yang kita pilih. Sudah terbukti bahwa kualitas kepemimpinan itu sangat dipengaruhi oleh orang-orang sekelilingnya. Dan satu hal yang harus selalu diingat. Pilihan kita pada akhirnya adalah satu paket. Sang pemimpin dan pendukungnya.

Bagi yang mengaku sebagai orang kreatif saya menyarankan untuk memanfaatkan masa ini sebagai cara belajar untuk berpikir kreatif. Cobalah untuk merubah arah dukungan Anda. Dan percayalah latihan ini bukan tindakan dosa. Ini adalah cara belajar paling efektif untuk mengubah jalan pikiran dan cara pandang Anda terhadap sesuatu. Cobalah untuk mencari kebenaran dari tokoh yang mulanya Anda anggap salah. Juga cermati kekuatannya dan carilah alasan bahwa itu adalah kelemahannya.

Semoga cara berpikir kreatif ini segera membebaskan diri Anda dari kacamata kuda yang sepertinya telah lumayan lama menutupi pengelihatan Anda. Semoga akhirnya Anda punya kemauan dan kemampuan untuk menghindarkan diri dari jeratan kampanye hitam yang terkutuk.

Sebagai warga negara yang baik. Akhirnya tentu saja kita semua harus berpartisipasi untuk memilih. Dengan pintar tentunya. Pastikan dan tetapkan pilihan Anda hanya pada kandidat yang punya kehormatan dan paling sedikit umbar janji. Dengan begitu kita sebagai rakyat akan terhindar dari rasa kecewa lantaran terlalu banyak janji manis yang kelak tidak digenapinya.

 

 

Bayu Sahaja

>>>>>>>>>> Jangan Baca KataFoto sebelumnya <<<<<<<<<<

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja