joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Harmoni

Email Cetak

Saling debat hingga gontok-gontokan bukan saja terjadi pada kelompok-kelompok orang yang berbeda pilihan. Suasana saling tidak sependapat bahkan berkelahi juga terjadi pada kelompok yang sama-sama menjagokan tokoh tertentu. Kelakuan begitu adalah cerminan dari iklim demokrasi yang belum dewasa.

Kita meyakini bahwa demokrasi adalah sebuah proses. Pemilu pada suatu sistem yang menganut azas demokrasi seharusnya menjadi legitimasi bahwa siapapun yang muncul kepermukaan merupakan pilihan terbaik. Sebab itulah wujud hakikinya pilihan rakyat banyak. Partisipasi masyarakat pemilih dalam budaya berdemokrasi menjadi bukti bahwa dari, oleh dan untuk rakyat adalah sahih. Lagi pula suara rakyat pada akhirnya terlegitimasi sebagai suaranya Tuhan.

Berangkat dari semangat memenangi hati rakyat banyak. Maka upaya membujuk dan merayu segala lapisan masyarakat untuk mendukung tokoh yang dijakokannya menjadi hal penting. Untuk itu partai-partai yang gagal merebut suara secara signifikan pada pemilu legislatif berupaya bersatu. Membentuk kelompok atau poros-poros yang intinya menyatukan suara dengan satu tujuan pasti. Yaitu berbagi kekuasaan pada pemerintahan yang semoga terpilih nantinya.

Bagi kelompok yang hanya meraih suara sedikit berupaya cari peluang dengan mencocok-cocokan pada kepentingan kelompok yang meraup suara kakap. Kelompok yang berhasil merebut simpati masyarakat secara luas berkesempatan pasang syarat. Mengajukan sosok calon pemimpin yang akan diusung pada pemilu 9 Juli 2014 nanti.

Dari beragam orang. Mulai orang pintar, merasa pintar, orang cari kesempatan, orang baik, orang setengah baik dan orang pintar-pintar menjalin kerjasama. Membentuk kelompok dengan macam-macam nama tetapi tujuannya satu. Intinya kelompok itu berupaya mengatur strategi dan taktik agar tokoh yang dijagokannya menjadi pemenang pada pemilu nanti. Dengan segala pertimbangan dan perhitungan akhirnya masing-masing kubu memutuskan dua nama untuk tampil sebagai calon presiden dan wakilnya.

Mengingat masyarakat Indonesia itu terdiri dari beragam daerah, budaya, aliran, keyakinan, profesi, pendidikan serta adat istiadat. Maka para tim sukses wajib kreatif dan cerdas dalam mengelola teknik kampanyenya. Masuk kandang kucing mereka mengeong. Masuk kandang anjing mereka menggonggong, masuk kandang kambing mereka mengembik. Dan bila masuk kandang singa mereka akan mati diterkam dan dicabik-cabik oleh sang raja hutan.

Karna terlalu bersemangat mendukung tokoh tertentu. Beberapa korban iklan kampanye pemilu jadi berpikir dan bertindak secara berlebihan. Padahal informasi yang selama ini ditelannya sebagai modal berpikirnya tadi merupakan produk iklan kampanye. Alhasil si korban iklan kampanye ini menjadi kebablasan. Merasa dirinya menjadi orang yang paling mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. Bahkan lebih tahu, lebih pintar dan lebih bijaksana ketimbang tokoh yang didukungnya.

Orang seperti saya yang kelakuannya paling sok tahu dan sok pintar sedunia. Kerap kali merasa malu saat sedang merenung sendiri. Betapa ocehan berlebihan yang saya ungkapkan di media sosial ataupun saat bersama teman-teman terlalu jauh melampaui apa yang sebetulnya saya pahami. Bayangkan saja. Bagaimana mungkin saya dapat meramalkan bahwa tokoh yang saya jagokan lebih baik dan benar benar benar dari tokoh manapun.

Percayalah. Bahwa siapapun presiden yang nantinya kita pilih adalah manusia biasa saja. Tidak ada bedanya dengan kita yang juga punya keinginan dan juga kebutuhan. Sebagai pemilih dan korban iklan politik. Lakukan saja dengan akal, pikiran juga hati nurani. Sebab semua manusia sudah dibekali akal juga pikiran. Selama akal sehat kita kedepankan sudah pasti kita berkesempatan memilih dengan tepat.

Jangan pula kita terjerumus pada janji-janji kampanye yang terlalu berlebihan. Apalagi yang hanya disampaikan dengan omongan. Lebih baik kita berpegang pada janji yang dituliskan. Sebab tulisan dapat dijadikan bukti. Untuk menuntutnya kelak bila mereka yang telah kita pilih itu tidak dapat membuktikan janjinya.

Bagi yang sudah berpengalaman ikutan kampanye dan pemilu sebelum-sebelumnya pasti sadar bahwa terlalu banyak janji pemilu yang tidak dapat dijalankan dan dibuktikan. Apalagi para tim sukses kerap mengemas gaya kampanye basi tapi mujarab merebut hati pemilih kurang wawasan. Biasanya dengan mengedepankan pembelaan secara berlebihan pada satu kelompok tertentu pada situasi kampanye di tempat tertentu. Kemasan dan teknik kampanye memang berbeda pada tiap daerahnya. Lain ladang lain belalang.

Percayalah bahwa fondasi dasar negara kita itu sudah ada dan terbukti ampuh mempersatukan Indonesia. Saat ini yang akan kita lakukan itu adalah menetapkan pemimpinnya. Jadi jangan membayangkan bahwa yang kita pilih itu berkesempatan melakukan hal-hal di luar dari aturan dan undang-undang yang sudah ada di negara kita ini.

Apalagi kemudian para pemilih seperti lupa dan tutup mata dengan semboyan di Pancasila yang merupakan lambang negara kita. Bhineka Tunggal Ika. Frasa itu berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Para pendukung kebablasan itu terlalu maju membela kelompok dan kepentingan dirinya sendiri saja. Dengan tega melupakan bahwa Indonesia itu terlalu luas dibanding dengan kepentingan dirinya yang picik dan tidak seberapa itu.

Bila profesi Anda adalah tim sukses yang nota bene bertujuan cari makan. Maka saya yang lugu bisa saja maklum. Namun ketika diri Anda hanyalah korban iklan kampanye belaka. Lalu terlalu maju koar-koar laksana penjual obat kuat di pinggir jalan, berbekal pemahaman yang pas-pasan pula. Bagaimana mungkin saya bisa maklum.

Memang kemasan kampanye itu selalu berusaha menjawab serta menyentuh ruang-ruang yang dibutuhkan oleh khalayak masyarakat tertentu. Para pelaku kampanye yang hendak membujuk dan merayu penghobi fotografi sudah pasti membekali dirinya dengan perangkat kamera. Dengan menyandang kamera diharapkan para penghobi fotografi akan merasa senasib sepenanggungan dengan pelaku kampanye tadi.

Begitu juga ketika hendak masuk berkampanye pada kelompok lapisan bawah. Sudah pasti mereka akan datang dengan atribut khas masyarakat lapisan bawah tersebut. Menyikapi hal itu jangan pula serta merta kita terkecoh. Lalu lupa mengenai apa yang telah dijalani dan dilakukan oleh sang tokoh sebelumnya. Lihatlah catatan sejarahnya. Karna saat pemilu nanti yang kita pilih pada dasarnya adalah ketokohannya.

Sudah sangat terbukti kalau kita adalah bangsa pelupa. Kita adalah bangsa yang sangat mudah terombang-ambing oleh isu dan berita. Sehingga beberapa media massa secara terang-terangan dijadikan senjata oleh tim sukses pemenangan pemilu tertentu. Bahkan perusahaan-perusahaan survey elektabilitas bisa dipesan untuk tokoh mana yang lebih unggul dibanding capres cawapres lainnya.

Tanpa pemahaman yang cukup. Banyak pendukung capres cawapres tertentu masih bingung mengenai perbedaan antara popular dan elektabilitas. Ada pula yang sejatinya tidak mengerti arti kata politik itu sendiri. Mereka berpikir bahwa ketika seorang tokoh demikian popular maka automatis elektabilitasnya tinggi. Padahal dua hal itu sungguhlah berbeda.

Popularitas berkait soal dikenalnya tokoh tertentu secara positip maupun hal negatipnya. Sementara elektabilitas menyangkut kesediaan orang untuk memilih tokoh tertentu untuk jabatan tertentu. Menjadi jelas di sini bahwa sepopular apapun seorang tokoh belum tentu dia menjadi pilihan bagi masyarakat untuk posisi jabatan tertentu.

Saya terharu ketika berdiskusi pada suatu kesempatan. Ada yang menyatakan bahwa politik bagi dirinya adalah bagaimana kita akan mendapat kesempatan jadi pengusaha. Katanya, “bila kita mendukung tokoh mana yang nantinya menang. Maka kita akan mendapat kesempatan untuk dapat proyek dan jadi pengusaha di masa kepemimpinan tokoh tersebut.”

Akhirnya sekali lagi kita harus menyadari bahwa demokrasi adalah sebuah proses. Mari kita belajar menghargai perbedaan. Sebab terlalu banyak alasan yang membuat kita berbeda antara satu dengan yang lainnya. Namun perbedaan bukanlah alasan untuk kita saling tidak menyukai dan menyakiti. Sudah seharusnya demokrasi menjadi tonggak harmoni.


Bayu Sahaja



>>>>>>>>>>>>>>> Jangan Baca Tulisan Lainnya <<<<<<<<<<<<<<<<

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja