joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Lembut

Email Cetak

Tadi pagi saya bertemu dengan sobat lama. Teman masa lugu di mana saya pernah menghabiskan waktu berburu momen foto bersamanya. Bedanya saya suka kopi dan sobat lama ini tidak. Mungkin hanya karna bingung hendak mulai dari mana maka dia ikutan memesan kopi juga.

Setelah dua cangkir kopi panas tersaji mulailah saya diterjang secara ganas oleh kelembutannya. Tadinya saya tidak menduga kalau sobat lama ini datang dengan satu misi khusus. Yaitu membahas soal tulisan-tulisan saya di KataFoto. Sadar diri kalau saya punya dua telinga dan hanya satu mulut. Maka saya memberikan kesempatan pada telinga untuk mendengar cercaan darinya yang lembutnya mana tahan.

Dengan suara halus, tatapan lembut serta untaian kata yang tertata. Sobat saya bilang, “kamu itu harusnya tahu. Pembaca KataFoto tidak semua berhati halus seperti amplas kaya kamu. Mereka bukan sekedar butuh solusi. Bagi sebagian orang, memberi mereka pisang adalah masalah. Terutama bila kamu tidak mengupaskan kulitnya dan sekalian menyuapinya!”

Meskipun saya dikenal keras kepala dan hobi membantah. Kali ini saya memilih banyak diam dan mendengarkan. Untuk mengesankan padanya bahwa saya punya kemauan untuk memahami apa yang orang lain sampaikan. Dalam hati saya bergumam, “ketimbang buka mulut hanya untuk meyakinkan semua orang bahwa dirinya benar-benar dungu.”

Apalagi nasihat pedas ini disampaikan oleh orang yang sudah banyak makan piala dan penghargaan lomba foto. Untaian kata yang didengungkan sobat lama ini terkesan lembut. Sehalus kotoran yang keluar dari pantat bayi. Pasti mudah terserap pempers kualitas bagus. Begitulah pesan itu menembus langsung ke dalam relung hati saya yang telah lama kapalan.

Saya tidak berupaya mengatakan apapun sebagai pembelaan. Sejak mula menulis KataFoto saya sudah sangat siap menghadapi kritik. Saya meyakini bahwa dalam ilmu pengetahuan soal kehidupan, kesalahan selalu mendahului kebenaran. Dan, bila kita berupaya menutupi kesalahan masa lalu dan terus berkubang melakukan kesalahan yang sama, maka kita berpotensi sulit untuk berubah.

Tulisan di KataFoto kebanyakan dikemas dengan teknik persuasif. Tetapi ada pula yang bernada koersif. Sehingga sangat mungkin ada pelaku yang merasa tersinggung. “Lho, kalau ada orang jadi alergi membaca KataFoto lantas mengaku tersinggung. Itu artinya dia itu tersangka dong?” Sobat lama saya seperti baru menyadari.

Sebetulnya apa yang sobat lama ini sampaikan sudah pernah juga disampaikan oleh Bunda Putri. Bahkan bukan hanya sekali saya dihimbau seperti itu. Pernah juga digertak untuk berhenti menulis. Apalagi yang menyangkut soal kelestarian lingkungan hidup.

Menurutnya percuma. Katanya, tanpa kemampuan untuk memberikan sangsi tegas yang nyata maka tindakan pelarangan sesuatu demi kelestarian lingkungan adalah upaya sia-sia. Soal kelestarian lingkungan merupakan soal serius yang sulit untuk dijelaskan kalau tidak panjang dan lebar.

Perkara lestari itu wujudnya tidak nyata dalam pandangan. Pengerusakan lingkungan yang dilakukan sekarang akan punya imbas nanti di masa depan. “Daripada mas terus menggerutu. Lebih baik ikutan ambil untung. Toh akibatnya masih nanti dan jelas bukan kita yang menanggung.” Teman dari meja sebelah ikutan nyambung.

Saya harus mengakui. Terlalu bersemangat berupaya mencegah sesuatu dengan himbauan. Baik secara lisan ataupun tulisan memungkinkan pelakunya terjerumus pada pengulangan pesan. Ujungnya pemirsa jadi bosan. Dalam ilmu komunikasi diistilahkan sebagai sleeper effect. Pesan yang berulang-ulang disampaikan justru membuat audience jadi nyenyak tertidur. Pesan kehilangan gereget, membosankan kemudian malah diabaikan.

Apalagi bila kemasan pesannya terlalu kasar laksana amplas kualitas nomor 1. Isi pesan berpotensi nihil tersampaikan. Yang terekam di otak pemirsa justru hanya untaian kata-kata kasarnya saja. Terutama bila terkonsumsi oleh pembaca berhati lelembut. Apalagi jenis orang yang trauma pasca dikasari. Dalam hal inilah KataFoto harus berubah. Demi monghormati aspirasi pembaca KataFoto yang bukan berasal dari dunia nyata.

Ini menang soal yang pelik. Ketika yang disasar adalah penipu dan pencuri. Para pembaca yang mengaku lelembut yang statusnya pengikut bisa saja ikutan tersinggung lalu memprotes tindakan penulis yang dirasa sewenang-wenang. Persis seperti yang dilakukan para pengacara dan koruptornya. Berupaya berkelit supaya para tersangka kasus unbelievable jangan diborgol. Tujuannya supaya mereka tetap bisa dadah-dadah dan senyum manis saat diliput media.

“Kenapa sih KataFoto tidak menggunakan teknik seperti menggiring sapi ke ruang pejagalan. Berkedok kelembutan dengan tujuan kejam pasti lebih sukses. Belajarlah dari yang dilakukan oleh banyak orang?” Sobat saya masih belum puas. Meskipun saya sudah berjanji dalam hati akan lebih menggunakan dua telinga daripada satu mulut menghadapi kelembutan sobat lama ini.

“Lembut itu lebih membius!” Sambungnya lagi. “Perhatikan. Bahkan srigala bukan hanya mahir menyamar jadi domba. Tapi jaman sekarang srigala sudah pintar memelihara domba. Memanfaatkannya sebagai selimut penghangat hingga nanti tiba saatnya untuk mengkonsumsi dagingnya!” Katanya sambil mengambil tissue untuk mengelap sudut bibirnya yang berbuih ludah.

Sekali lagi. Memang kata-kata sobat lama ini terasa sadis. Namun bila pembaca mendengar langsung bagaimana sobat lama saya ini mengatakan semua itu dengan lembut. Saya sangat yakin semua pembaca KataFoto akan terkesan, takjub dan terhipnotis lalu nurut. Harus juga saya sampaikan. Sobat lama saya ini berkelamin pria. Hal ini saya sampaikan supaya pembaca yang lugu tidak tersesat. Lantas membayangkan yang tidak-tidak.

Sejak lama saya dikenal paling riang gembira ikut mengalir mengikuti mode dan gaya hidup. Terutama bila hal itu terkait dunia fotografi. Namun ketika menyangkut soal prinsip berfotografi. Bahwa mahkota terindah fotografi adalah kejujuran. Maka semua orang segera paham. Saya menjadi keras dan tegar tak tergoyahkan laksana batu karang.

Bagi saya. Dunia ini sudah penuh kesemerawutan. Jadi terserah. Apapun latar belakang dan profesi Anda. Satu hal, jangan susupi dunia seni fotografi dengan semangat menipu dan mencuri. Ijinkan kejujuran menjadi mahkota terindah fotografi.

Sekedar untuk diketahui. Sobat lama ini adalah sosok orang kaya. Dibesarkan dan ditumbuh kembangkan dalam suatu bentuk usaha yang menghalalkan segala cara. “Lantas pengaruhnya apa?” Dia protes keras bila bahas soal itu. “Bukankah iklim bisnis jaman sekarang menuntut semua orang untuk ikutan gila supaya dapat bagian.” Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.

Entahlah. Biasanya naluri predator saya tersulut jika melihat makhluk tidak berdaya. Tapi yang terjadi kali ini saya justru prihatin. Melihat sosok yang kelihatan dari luarnya saja tegar. Dia berurai air mata di depan saya. Wujud makhluk yang kenyang gosip namun lapar pengetahuan. Nekad tampil tapi kebingungan. Sebagai akibat melihat suatu perkara hanya dari satu sisi sahaja. Saya meyakini kalau sobat ini telah lama menjadi domba peliharaan srigala.


Bayu Sahaja

>>>>>>>>>>>>>>  Jangan baca tulisan ngawur sebelumnya >>>>>>>>>>>>>>>

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja