joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Pamer

Email Cetak

Jangan salahkan kesukaan orang yang suka pamer di jejaring sosial. Karna memang di situ adalah tempatnya. Tempat di mana semua orang boleh menggunakan fasilitas yang ada guna memamerkan segalanya. Jika Anda tidak suka lihat orang pamer. Segera jauhkan diri Anda dari ketersambungan internet. Gitu aja koq repot!

Bagi orang seperti saya, yang menganggap apa yang dilakukan orang lain itu selalu salah dan merasa diri paling benar. Saya memandang segala yang dipamerkan di jejaring sosial sudah masuk kategori kebablasan. Lihatlah. Para pengguna jejaring sosial kerap lupa diri. Bahkan ada beberapa yang sudah mulai bangga memamerkan kedunguannya.

Sejujurnya saya geram menyaksikan bagaimana aksi pamer dilakukan secara serampangan. Miris rasanya menyaksikan saat seorang sahabat yang pejabat meninggal dunia. Lalu secara bombastis orang-orang yang sok kenal dan sok dekat memanfaatkan berita duka cita itu untuk aksi pamer. Pura-pura ikut merasakan artinya kehilangan. Padahal niatnya unjuk gigi supaya publik tahu bahwa dirinya dekat dengan pejabat.

Mereka tega memposting foto-foto almarhum di jejaring sosial. Bahkan tanpa perasaan menandai foto-foto tersebut pada istri dan keluarga dekat yang ditinggalkan. Mirisnya lagi ini bukan aksi perorangan. Ada tokoh yang merasa dirinya panutan. Tidak berperasaan yang masuk kategori asosial. Tega-teganya mengajak semua orang untuk memposting foto sahabat itu semasa hidup. Padahal sahabat itu baru saja meninggal dalam suatu peristiwa tragis.

Pamer berlebihan akhirnya berlanjut. Orang-orang lantas memajang foto almarhum sebagai profile picture di gadgetnya. Lalu sibuk menghubungi istri ataupun keluarga dekat yang ditinggalkan untuk menanyakan hal-hal menyakitkan yang sama sekali tidak penting. Ada pula yang laporan mau bikin acara ini dan itu.

Menurut saya tindakan itu terlalu berlebihan. Tidak layak dilakukan di kala air mata duka belum juga mengering. Mungkin karna tidak tahan lagi. Akhirnya keluarga almarhum meminta pengertian secara terbuka. Meminta pengertian para teman dan sahabat almarhum untuk menghentikan aksi posting foto-foto almarhum di jejaring sosial. Juga memohon untuk tidak menggunakan foto almarhum sebagai profile picture di gadget masing-masing.

Saya dapat merasakan betapa beratnya mengungkapkan hal itu. Di sisi lain saya juga dapat merasakan betapa teririsnya hati ketika ada tanda panggilan di gadget. Saat membukannya yang terlihat di handphone itu adalah foto dari orang tercinta yang baru saja dimakamkan. Jika Anda sulit mengerti apa yang saya maksudkan. Semoga Anda tidak harus mengalami perlakuan seperti itu di saat kehilangan orang yang dicintai di waktu dekat ini.

Memang jejaring sosial itu tempatnya untuk pamer. Anda boleh pamer apa saja. Mulai makanan mahal yang sedang dihidangkan untuk santapan makan siang Anda. Foto juara, foto gagal, hingga kesadisan Anda kepada binatang yang Anda jadikan sebagai obyek foto. Atau, boleh juga Anda memamerkan kepintaran Anda dalam mengikuti arus politik praktis. Terombang-ambing. Tidak mengerti tapi nekad bikin status. Alhasil sukses mengindikasikan bahwa Anda hanyalah korban iklan politik.

Tapi buat saya. Yang paling menyedihkan adalah ketika Anda termasuk jenis orang yang tega pamer kedekatan diri dengan orang yang baru saja meninggal. Apalagi alasannya hanya karena orang yang baru meninggal itu adalah pejabat. Mungkin Anda betul-betul berduka. Tapi sesungguhnya terlalu banyak cara yang lebih santun untuk menunjukan simpati Anda itu. Ketimbang pamer di jejaring sosial. Apalagi menggunakan foto-foto narsis untuk membuktikan bahwa Anda memang dekat.

Keluarga yang ditinggalkan oleh almarhum pasti merasa sangat  kehilangan. Terlebih bila proses kehilangan orang yang dicintai itu terjadi secara tiba-tiba. Mereka pasti butuh ruang dan waktu untuk sendiri. Jika Anda merasa sebagai orang yang peduli. Daripada sibuk koar-koar pamer kedekatan lebih baik Anda menyiapkan energi. Supaya dapat menempatkan diri menjadi seperti apa yang dibutuhkan oleh keluarga yang ditinggalkan.

Jika memang peduli. Harusnya orang-orang yang merasa punya perasaan dan ikut berduka itu berkemauan untuk memberikan sejenak ruang dan waktu pada keluarga yang ditinggalkan. Bukan dalam arti membiarkan mereka tenggelam dalam kedukaan. Sambil melihat dan merasakan apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Kemudian menjawabnya sesuai kemampuan Anda sembari menilai apakah itu nyaman disampaikan.

Menurut saya. Itulah wujud rasa duka yang sebenarnya. Kedukaan Anda jangan pula dipamerkan dengan banyak tanya. Cari muka. Apalagi lantas bicara sesuatu rencana jangka panjang berkait penghormatan Anda pada almarhum. Sesuatu yang sama sekali tidak dibutuhkan oleh pihak keluarga di saat itu. Lihatlah dengan nurani Anda. Air mata masih menetes dan tangis sedih belum juga reda.

Tunggulah waktu yang tepat untuk menunjukan perhatian Anda yang tidak seberapa itu. Wujud duka akan lebih punya rasa dan makna ketika tepat ruang dan waktu menyampaikannya. Janganlah tergesa-gesa memamerkan kepedulian Anda yang sama sekali tidak mengena. Terlebih di kala luka duka menyayat masih hangat.

Jika rasa kehilangan yang Anda rasakan itu demikian berat dan tak tertahankan. Anda harusnya berpikir. Betapa rasa kehilangan yang lebih berlipat-lipat dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Saya mengerti. Mungkin Anda sibuk kasak kusuk bertujuan untuk meringankan atau mengalihkan rasa duka yang dialami keluarga dekat. Tapi cobalah sekali lagi Anda renungkan.

Harusnya disadari oleh tiap orang yang merasa peduli. Bahwa tiap kata tanya yang Anda ajukan sangat berpotensi mengorek-ngorek luka yang masih basah dan terbuka. Saya ikutan sedih ketika pertayaan yang tujuannya bersimpati dan memberi perhatian diajukan bukan pada waktu dan tempatnya.

“Ijin ya Bu. Saya punya banyak foto-foto beliau saat masih hidup. Saya sangat dekat dengan almarhum. Kalau ibu membutuhkan foto-foto tersebut. Silahkan buka link ini. Blablabla.” Begitu postingan seorang teman yang dimuat di jejaring sosial. Saya yakin istri almarhum beserta anak-anaknya menangis mendalam ketika melihat postingan itu.

Apalagi bila menghitung waktu pemuatan pesan itu. Sangat dapat diduga waktunya bersamaan dengan saat pemakaman almarhum berlangsung. Sejujurnya saya sedih. Bahkan sempat menitikan air mata ketika membaca postingan tanpa perasaan itu.

Jejaring sosial memang tempatnya untuk pamer. Jejaring sosial adalah suatu ruang yang saya makin yakin bahwa fungsinya bisa menjadi sangat-sangat anti sosial.



Bayu Sahaja

>>>>>>>>>>>>>>  Jangan baca tulisan lainnya >>>>>>>>>>>>>>>

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja