joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Sarang

Email Cetak

Dua makhluk itu terlihat sibuk membawa rumput kering dan ranting pohon. Bahkan pernah juga memergokinya membawa terbang sehelai tisu bekas ke rimbunan pohon beringin yang tumbuh di pot depan rumah. Meskipun beringin itu kini tumbuh dengan lebatnya. Namun masih tersisa jejak bahwa pohon itu dulunya adalah karya bonsai yang terawat.

Dua mahkluk itu adalah sepasang kutilang yang hendak membangun sarang. Kicauannya yang khas mengisi suasana pagi dan sore hari melengkapi kerimbunan halaman depan rumah. Melihat posisi  pot bonsai itu tepat berada di depan pintu rumah. Siapapun akan berpikir adalah terlalu nekad bila makhluk liar coba membangun sarang di sana.

Memang pintu rumah bagian depan yang merupakan jalan masuk ke ruang tamu jarang dibuka tutup. Tamu-tamu yang datang memilih masuk melalui pintu samping yang langsung tersambung area dapur.

Tentu saja dekat dengan ruang dapur akan memungkinkan tiap tamu mendapat pelayanan nomor satu. Berbincang dengan tuan rumah di meja makan yang dekat dengan dapurnya menjamin hidangan enak langsung tersaji. Bahkan bisa ambil sendiri bila perlu.

Mungkin alasan pintu jarang dibuka itulah yang membuat sepasang kutilang memilih pohon beringin rimbun di depan pintu rumah sebagai tempat ideal. Membangun sarangnya. Menjalankan perintah alam untuk bertelur demi kelestariannya.

Seperti telah diduga. Beberapa hari kemudian dua telur mungil berwarna putih kecokelatan telah mengisi sarang. Sarang sederhana namun telihat kokoh dan kuat jalinannya. Terdiri dari begitu banyak rumput kering dan ranting pohon. Bahkan tisu yang sebelumnya terlihat dibawa ke rimbunan itu kini telah terjalin menyatu dengan sarang berbentuk mangkuk.

Untuk dapat melihat isi dari mangkuk sarang itu saya harus mengambil kursi sebagai pijakan. Kita dapat merasakan bahwa posisi sarang bukan dipilih secara sembarangan. Dari berbagai sisi sarang ini tidak terlihat. Padahal letaknya hampir sejajar dengan sudut pandang rata-rata orang dewasa. Namun butuh upaya serius untuk dapat menemukan letak sarang ini.

Sepasang kutilang itu terbukti telah melakukan pengamatan mendalam sebelum memutuskan untuk di mana bersarang. Suatu malam secara mengendap saya berupaya melihat perkembangan di sarang mungil itu. Mengangkat kursi makan dengan perlahan dan dengan bantuan sebuah senter kecil sebagai alat penerangan. Hari itu hujan turun cukup deras.

Meskipun seluruh anggota keluarga telah bersepakat untuk membiarkan serta memberi ruang pada sepasang kutilang yang hendak bersarang. Dalam arti tidak ikut campur pada perkara alami itu. Namun ada sedikit terbersit rasa kuatir mengenai situasi yang di alami sepasang kutilang itu di kala hujan. Saat hujan reda. Rencana pemantauan saya lakukan.

Ternyata induk kutilang tidur di sarang. Posisi tubuhnya mengembang sedemikian rupa. Sehingga sarang sepenuhnya tertutup oleh bulu-bulu dan sayap kutilang. Ia menjadi waspada saat senter kecil saya nyalakan untuk bisa melihatnya.

Saya tidak melanjutkan upaya untuk meneliti lebih jauh. Meskipun rasa penasaran tetap membuncah. Ingin tahu perkembangan apa yang terjadi pada dua telur kutilang yang mungil itu. Sang induk mendongakan kepala tanda waspada. Saya tidak tega mengusiknya.

Esok siangnya saya dapat kabar dan ikut senang setelah menyaksikannya sendiri. Di dalam sarang kini terlihat dua makhluk mungil. Kemerahan kecil dan tanpa bulu. Sepasang induk kutilang yang biasanya ada tidak kelihatan lagi. Mungkin mereka sedang sibuk mencari makan untuk dua bayinya yang terlihat begitu rapuh.

Saya tidak melanjutkan upaya untuk lebih mengetahuinya. Sepertinya memberi ruang pada sepasang kutilang serta dua bayinya adalah langkah bijaksana yang dibutuhkan makhluk liar ini. Sepasang kutilang itu kerap terlihat resah lalu terbang ke sana kemari ketika ada orang yang membuka pintu ruang tamu itu.

Saya melihat tindakan sepasang kutilang itu terbang dan hinggap lalu berkicau. Sepertinya sebagai upaya mengalihkan perhatian. Supaya orang tidak terfokus mencari dan menggangu sarang yang kini berisi dua bayinya. Mereka memecah perhatian dengan berkicau di pagar, atap rumah, kabel listrik ataupun rimbunan pohon bambu pagar rumah.

Sebagai orang yang punya kamera tentu saja saya berusaha mengabadikan momen itu. Memotret sarang yang berisi dua bayi ketika sang induk tidak di sana. Memotret sepasang kutilang yang bersiap menuju sarang. Bahkan tahapan dan jalan masuk menuju sarang adalah suatu rangkaian yang akhirnya saya pahami sebagai cara supaya jalan masuk itu tidak terbaca oleh predator.

Hinggap di pagar lalu ke pohon kelapa hingga turun melalui arah belakang. Sehingga dari pintu ruang tamu rumah ini kita luput melihat posisi induk tersebut. Kita sulit menebak apakah induk sudah berada di sarang atau masih bertengger di luar sarang.

Padahal keinginan saya untuk memotret adegan sang induk sedang memberi makan anaknya demikian besar. Namun bila rencana itu saya wujudkan. Maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memangkas rimbunan pohon di bagian depan. Memotong beberapa ranting sehingga posisi sarang tidak lagi terhalang ranting beringin. Sehingga dari dalam pintu rumah yang dibuka, lensa saya dapat leluasa mencari titik fokus guna merekam peristiwa kehidupan yang menakjubkan itu.

Rencana itu akhirnya saya urungkan. Saya kuatir tindakan memangkas rimbunan pohon akan membuat sepasang kutilang jadi resah dan ketakutan. Pemotongan ranting akan serta merta membuat posisi sarang jadi mudah terlihat. Tentu saja pengungkapan itu sama sekali tidak diinginkan oleh sang induk. Kuatir membuatnya stres dan lalu menjadi takut memberi makan pada dua bayinya yang selalu lapar.

Saya memutuskan untuk puas hanya dengan merekam beberapa momen foto yang ada. Mungkin pembaca akan mengatakan bahwa saya kurang berusaha. Sehingga karya foto yang saya dapatkan telihat biasa-biasa saja.

Karya foto yang saya dapatkan hanyalah gambar dengan kualitas seadanya. Dua kutilang yang bertengger di pagar untuk mengalihkan perhatian saya. Dua bayi kutilang yang sedang tidur di sarang. Di mana mereka seketika terbangun saat menyangka kehadiran saya adalah induknya. Serta merta dua bayi itu menjulurkan kepala sambil membuka mulut untuk menerima suapan kehidupan.

Meskipun peristiwanya berada di pekarangan rumah saya bukan berarti kehidupan mereka menjadi milik saya. Saya menahan diri. Tidak melakukan upaya lain untuk mendapatkan karya foto yang lebih istimewa. Saya merasa jika melakukan tindakan lain demi mendapatkan karya foto yang lebik baik akan berpotensi mengganggu keberlangsungannya.


Bayu Sahaja


>>>>>>>>>>>>>>  Jangan baca tulisan sebelumnya >>>>>>>>>>>>>>>

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja