joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Pentas

Email Cetak

Ini adalah kali pertama. Di Batam ada tujuhpuluh model yang berencana tampil bareng. Konsepnya Lady in Red. Mereka berniat hadir demi mewakili pihak agencynya ataupun mewakili dirinya sendiri. Para model ini rencananya akan melakukan parade di jalanan dan berpose untuk diabadikan oleh para pecinta fotografi.

Terbayang betapa mengundangnya acara ini untuk dihadiri oleh sesiapa saja yang mencintai dan mendukung pentas kreatifitas. Terlebih bagi rekan-rekan yang menyukai fotografi. Tiap gaun merah yang akan dikenakan pada hari pelaksanaan merupakan rancangan dan padu padan tiap pribadi yang hendak tampil.

Pada awal acara dimulai. Para model bergaun merah dipanggil namanya untuk tampil satu-satu naik ke panggung yang telah disediakan. Ini adalah cara apreasiasi bagi mereka. Diperkenalkan kepada seluruh yang hadir oleh penggagas acara ini. Siapa lagi kalau bukan Uncle Sam selaku pimpinan dari Next Colour.

Puncak acara adalah parade yang diiringi alunan musik yang pas. Para model dibagi dua barisan berjalan beriringan. Lalu bersilang arah ke kiri dan ke kanan. Jumlah model yang hadir ternyata hanya 56 model. 14 orang model berhalangan datang karna berbagai alasan. Tapi jumlah 56 model sudah lebih dari cukup untuk memerahkan jalanan komplek ruko Gajah Mada Square Batam.

Panitia sengaja tidak menutup jalan komplek. Tujuan acara ini adalah mendukung pentas kreatif dan semangat berkesenian. Panitia berkomitmen untuk tidak menggangu fasilitas umum. Sedihnya. Di saat acara parade sedang berlangsung masih ada saja pengguna jalan yang tega memaksa melintas dengan mobil mewahnya. Mobil itu nyelonong dengan kaca mobil terbuka lebar. Mata lurus ke depan sombong dan berniat pamer.

Seluruh pengunjung yang hadir pada acara tanggal 4 Mei 2014 menyaksikan kesombongan itu sambil mengelus dada. Apalagi si pengemudi mobil mahal itu sempat bunyikan klakson panjang untuk memaksa lewat. Seluruh peserta acara menyorakinya coba menyentil rasa malunya. Namun si pengemudi tidak peduli dan terus jalan. Terpaksa pelan. Karna jalanan dipenuhi peserta parade, pengunjung umum juga fotografer yang asyik motret.

“Hanya orang kaya yang meraih kekayaan dengan cara tidak tahu malu. Bisa tega memaksa melintas di saat parade seperti ini sedang berlangsung.” Guman saya dalam hati. Kala meyaksikan sikap pongah sang pengendara mobil sialan itu.

Padahal ada panitia yang menjaga pos di ujung jalan. Bertugas untuk memberi pengertian pada para pengendara yang hendak melintas. Memberi tahu, bahwa ada gelar parade yang hanya akan berlangsung lebih kurang 30 menit. Sehingga menunggu atau putar balik arah adalah pilihan yang patut dipertimbangkan. Terutama bagi makhluk sosial yang mengerti arti bertoleransi.

Selesai melakukan parade. Para model mengambil posisi berderet rapat-rapat untuk sesi foto bersama di depan panggung. Panitia mengabadikan acara langka itu sebagai dokumentasi berharga. Selanjutnya model berbaris menuju taman untuk memberi kesempatan pada para pecinta fotografi untuk memotretnya.

Masing-masing model tampil dengan kostum dan dandanan berbeda. Mulai dari sepatu hingga riasan rambut telah dirancang dan dipadu padan secara cermat. Sebab seluruh model yang hadir sudah sangat mengerti. Bahwa para fotografer di kota Batam akan tumpah ruah di acara dahsyat ini. Sehingga tampil secara maksimal adalah tindakan paling tepat.

Lady in Red merupakan konsep yang digarap kali ini. Seluruh model mengenakan pakaian yang didominasi warna merah. Jauh hari sebelum hari pelaksanaan banyak dari para model yang melakukan konsultasi langsung kepada Uncle Sam. Mengenai bentuk pola serta padu padan pernak pernik yang bagus dan sesuai di acara semarak ini.

Pasti ada pengorbanan untuk dapat tampil dengan maksimal. Persiapan dan latihan adalah cara membuat pementasan jadi sempurna. Bahkan pada sesi gladi bersih yang digelar sehari sebelumnya. Uncle Sam dan para model secara antusias meminta beberapa kali pengulangan latihan. Saya takjub dengan semangat dan komitmen mereka.

Taman depan komplek ruko Gajah Mada Square – Tiban Batam, jadi ramai. Apalagi para pengendara mobil ataupun sepeda motor yang kebetulan melintas di jalan raya jadi tertarik melihat keramaian itu. Lalu Menepikan kendaraannya ataupun sekedar memperlambat kendaraannya untuk memenuhi hasrat ingin tahunya. Titik-titik yang sudah ditandai menggunakan bendera kecil oleh panitia menjadi tempat di mana model berhenti, berdiri dan berpose.

Alhasil para fotografer yang hadir secara bergilir memotret satu-satu model yang memenuhi ruang taman terbuka hijau itu. Bemacam-macam pose diperagakan oleh para model ini. Dari pose berdiri dengan permainan ekspresi tangan, gaya bersandar di pepohonan, hingga bergaya sambil duduk. Syal, kerudung, payung dan lain sebagainya jadi aksesoris pemanis.

Anggota Batam Photographer yang menjadi kordinator acara hunting telah mempersiapkan kertas tisu serta air mineral untuk mengusap keringat dan menghalau rasa haus. Taman yang pohonnya masih relatip kecil tidak mampu menutup terpaan sinar matahari. Namun panas mentari tidak sanggup meredam semangat seluruh peserta. Ini merupakan wujud kerjasama saling menguntungkan yang harus terus dibina. Sebab rasanya ada yang kurang bila fotografer tanpa model. Dan begitu juga sebaliknya.

Hanya tenggelamnya matahari yang akhirnya berhasil meredam berlanjutnya aksi pose model dan jeprat-jepret fotografer. Hilangnya sumber cahaya alami menjadi tanda berakhirnya sesi pemotretan yang heboh ini. Para model istirahat. Para fotografer istirahat, ngopi sambil diskusi ataupun kenalan. Menunggu sesi acara selanjutnya. Final lomba baca puisi dan stand up comedy.

Ada tamu penting yang berkenan hadir. Beliau adalah pak Ria Saptarika dan istri. Mantan wakil Walikota Batam ini positip terpilih mewakili Batam untuk duduk di DPR RI dengan suara terbanyak di pemilu yang baru lalu. Komitmennya dekat dengan masyarakat serta selalu mendukung pentas kreatifitas berbuah dukungan masyarakat banyak padanya.

Seperti disampaikannya dalam kata sambutan di acara ini. Sejak dulu beliau dikenal selalu aktif mendukung kegiatan seni dan juga fotografi. Itu mengapa tidak salah bila ketua panitia acara ini, Wan Batamasya titip pesan padanya. “Berharap Pak Ria terus dan selalu mendukung pentas kreatifitas semacam ini.”

Mulailah final acara baca puisi. Perserta yang tampil merupakan hasil seleksi pada tiga kali hari Minggu sebelumnya. Para finalis tampil ekspresif dan memukau seluruh pengunjung. Diam-diam acara ini mengusik semangat dari seorang ibu yang mulanya hadir hanya untuk menonton. Hatinya demikian bergejolak hingga tidak mampu lagi menahan hasrat untuk ikutan tampil baca puisi juga. “Silahkan bu,” ujar pembawa acara sambil menyerahkan pengeras suara.

Puisi memang milik siapa saja. Puisi harus ringan dan siapa saja boleh berpuisi. Sebab puisi adalah kata hati yang bisa digelar kapan saja dan di mana saja. Puisi merupakan perkara indah yang murah. Sedih tulis puisi, jatuh cinta tuangkan dalam puisi, putus cinta berpuisi, naik gaji baca puisi, ngopi dapat inspirasi lalu tulis puisi.

Rentetan acara dilanjutkan dengan acara stand up comedy. Ini juga merupakan akhir dari rangkaian acara babak penyisihan yang sudah dilaksanakan pada tiap hari Minggu sebelumnya. Para yang hadir tampil terlihat lugas dan lancar mencandai segalanya. Mereka adalah orang-orang yang sudah biasa tampil, terlatih untuk bicara di depan banyak orang.

Keberanian mentertawai diri sendiri adalah wujud kebesaran jiwa. Selalu ada hikmah yang kita dapat kita petik sambil asyik tanpa sadar mentertawai diri sendiri. Saya bangga dan kagum pada semua yang tampil. Bahwa kreatifitas apapun caranya akan menginspirasi secara positip juga pada akhirnya.

Sambil menunggu dewan juri menetapkan pemenang. Acara diisi oleh tampilnya pesulap dan acara hipnotis. Sulapnya adalah pertunjukan jarak dekat. Mengherankan semua pemirsa ketika sebuah sendok logam dibengkokan hanya oleh kekuatan pikiran. Dalam sesi hipnotis, dua pengunjung dihipnotis dan disugesti bahwa alas kaki yang dipakai adalah handphonenya. Pertunjukan yang sungguh kocak dan menghibur.

Banyak tamu yang hadir mengharapkan acara ini dapat digelar berkesinambungan. Tentu saja pagelaran ini butuh dukungan dan pengorbanan. Itu mengapa saya bangga punya sahabat yang mau mendukung acara seperti ini. Kita kagum atas dukungan sponsor dari Wan Batamasya, Bisa Laundry, Hoki Teleshop, iStore Batam, One Advertising, BisaNgopi, Dapur Lombok, Batam Photographer serta Next Colour selaku penggagas acara ini.  


Bayu Sahaja

>>>>>>>>>>>>>>  Jangan baca tulisan sebelumnya >>>>>>>>>>>>>>>

 

 

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja