joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Antusias

Email Cetak

Akhirnya saya semakin paham. Bahwa antusias adalah salah satu kunci keberhasilan. Tapi jarang ada yang mampu terus memiliki antusias ketika didera badai kegagalan. Itu mengapa bertemu dengan sosok guru berjiwa besar dan berbincang dengannya sambil ngopi. Efeknya lebih dahsyat daripada menelan sebotol pil multivitamin.

Siapa yang tidak percaya kalau semangat itu menular. Siapa yang berani meragukan kalau hidup kita di masa depan itu bergantung dari dengan siapa kita bergaul. Itu mengapa saya belajar untuk menyeleksi pertemanan. Menyaring pergaulan guna meminimalisir efek buruk yang mungkin masuk dari akibat salah pilih teman dan pergaulan.

Ketika melalui telpon beliau bilang akan berkunjung ke Batam. Antusias saya yang selama ini terpendam langsung keluar dari sarangnya. Ini kali ke dua saya akan bertemu dengan Om Don. Setelah setahun sebelumnya saya dan beberapa teman pernah berbincang dengannya di sebuah restoran tepi pantai di Batam.

Diskusi dengannya seperti tidak pernah kehabisan topik bahasan. Don Hasman tidak muda lagi. Usianya masuk 74 tahun sekarang ini. Pengalamannya sungguh membuat jiwa para petualang tertantang. Naik gunung dan jalan-jalan adalah hobi yang membuat banyak orang tercengang ketika mendengar pernah ke mana saja beliau berpetualang.

Mulai dari urusan batu permata hingga masalah dan asyiknya bersepeda bisa dikupas tuntas. Kalau soal fotografi jangan ditanya lagi. Sebab Don Hasman sudah menekuni asyiknya berfotografi sejak tahun 1951. Sehingga pemahaman hal-hal teknis tidak perlu diragukan lagi.

Mungkin Anda terkejut jika mengetahui bahwa Don Hasman hingga saat ini telah lebih kurang 200 kali mendaki gunung Pangrango. Belum lagi catatannya soal mendaki sekitar 40 gunung berapi  yang ada di Indonesia serta pengalamannya menyusuri gua-gua yang ada di dalam dan luar negeri.

Pameran foto di dalam dan luar negeri pernah dilakukannya. Jadi juri lomba foto, kurator, menyelam, bersepeda, mengemudi lintas negara juga benua, ikut serta dalam operasi SAR serta melakukan ekspedisi, penelitian sosial dan budaya pernah dijalaninya.

Makin banyak kita mengenal orang serta mengunjungi banyak tempat maka kita akan semakin bijaksana. Hal itulah yang menjadi kesan ketika berbincang dengannya. Meskipun tahu banyak hal beliau tetap rendah hati dan selalu rela berbagi. Baginya karya foto yang dihasilkannya diharapkan sebisa mungkin menginspirasi hal positip kepada orang lainnya.

Bahkan kami-kami yang hadir diberi kesempatan menduplikat karya foto dan karya tulis yang ada di kartu memorinya. “Siapa tahu bisa dapat inspirasi dari karya yang tidak seberapa itu,” ujarnya merendah saat kami semua antusias mengkopi data tulisan dan gambar yang ada di memori penyimpan data digitalnya.

Don Hasman tercatat sebagai orang yang memiliki foto-foto dokumentasi suku Baduy Dalam. Pencapaian ini tentunya butuh kesabaran, tekad dan semangat pantang menyerah. Sebab bagi orang Baduy Dalam difoto itu merupakan hal tabu. Don Hasman bilang butuh waktu 8 tahun pendekatan hingga akhirnya diijinkan memotret orang Kanekes itu.

Foto-foto berupa kegiatan kehidupan dan budaya masyarakat Baduy berhasil direkam oleh Om Don. Saat ini karya foto tersebut banyak digunakan sebagai bahan kajian dan penelitian terhadap suku Baduy yang tertutup itu.

Don Hasman bilang, “fotografi jangan sekedar diartikan sebagai aktivitas melukis dengan cahaya. Sebab jika kita mengartikan fotografi hanya sebatas arti katanya saja, maka bisa jadi kita akan teresat.” Kita semua tertawa mendengar kalimatnya. Melihat kami masih bingung beliau melanjutkan, “fotografi adalah kegiatan merekam obyek yang ada sesuai dengan apa yang kita lihat menggunakan perangkat kamera.”

Dari Om Don saya dapat pembelajaran langsung mengenai teknik memotret. Katanya saya terlalu banyak merangkum area yang tidak perlu ke dalam bingkai gambar. “Maksimalkan cropping menggunakan kamera di saat pemotretan. Jangan sisakan ruang untuk sesuatu yang tidak perlu. Pastikan ada satu titik pusat perhatian.”

Di tengah perbincangan sambil ngopi. Bahkan guru panutan satu ini membuat saya terperangah ketika bahas soal kopi. Pengetahuannya sungguh seluas samudera. Gerai BisaNgopi tempat kami berdiskusi mengandalkan sajian kopi Aceh. Kiat-kiat rahasia mengenai teknik meracik kopi dibisikannya.

“Penambahan materi seperti irisan kurma, pisang, alpukat, kayu manis pada secangkir kopi akan memberi citarasa yang enak dinikmati,” katanya serius. Saya sendiri sudah mencobanya. Menikmati seduhan kopi ditambah irisan alpukat sambil menulis kisah pertemuan dengan Om Don Hasman ini. Kenikmatan kopinya jadi punya nuansa rasa yang beda. Penggemar kopi saya sarankan untuk mencobanya.

Di sela-sela asyiknya diskusi. Om Don Hasman meminta saya untuk ikut berpatisipasi direncananya menerbitkan buku fotografi. Penerbitan buku itu akan dilaksanakan tepat pada acara perayaan tujuhpuluh tahun Indonesia merdeka. Beliau akan mengundang 70 fotografer dari seluruh Indonesia untuk terlibat dalam buku tersebut.

Terus terang saya tersanjung dengan permintaan itu. Beliau mengatakan, “tapi jangan berharap untuk dapat uang bayaran. Sebab penerbitan buku ini bertujuan menunjukan wujud pengabdian kita sebagai fotografer Indonesia.” Saya terharu dengan rencananya. Menurut saya. Siapapun akan rela dan bangga ketika terlibat dalam proyek penerbitan buku yang membanggakan tersebut.

Tapi dalam hati saya menduga kalau Om Don salah orang. Saya merasa belum pantas untuk jadi salah satu dari 70 fotografer Indonesia yang akan dilibatkan dalam buku itu. Bahkan saya merasa belum punya karya foto yang layak tampil di buku istimewa itu. Ketika saya sampaikan hal itu. Don Hasman bilang, “kesempurnaan hanya milik yang di atas. Akan selalu ada orang yang suka dan tidak suka pada hasil karya kita. Teruslah sahaja berkarya!”

Berulang kali Om Don menyimak deretan karya foto yang di pajang di BisaNgopi. Beliau terkesan pada keindahan serta momen yang tampil pada karya-karya fotografer yang dipamerkan di tempat ngopi ini.

“Karya foto yang dipajang di sini sangat menginspirasi!” Ujar Om Don. Saya sampaikan padanya, “kedai kopi ini memberi ruangnya untuk pameran karya foto teman-teman. Di sini juga kerap dilakukan acara bedah foto, hunting foto dan kegiatan seni lainnya.”

Akhirnya waktu juga yang membatasi pertemuan penuh daya tular semangat dan inspirasi ini. Berkali-kali Om Don dengan antusias mendorong semua yang hadir untuk terus berkarya. “Rencanakan dan mulai merangkum karya foto terbaik yang pernah dihasilkan untuk dipamerkan atau diterbitkan sebagai buku. Sayang bila foto bagus hanya disimpan untuk diri sendiri.” Ujarnya penuh semangat.

“Jangan pernah pelit berbagi. Berbagi adalah satu jalan untuk berbahagia. Apalagi hanya sekedar berbagi karya foto yang peristiwa aslinya telah kita saksikan langsung.” Ujarnya sambil pamit dan menjabat erat kami yang hadir satu persatu. “Fotografi itu seni. Landasilah semangat berkarya dengan kecintaan kepada alam, lingkungan dan kehidupan.” Tutupnya sambil menuju kendaraan yang menjemputnya.


Bayu Sahaja

 

 

>>>>>>>>>>>>>>  Jangan baca tulisan sebelumnya >>>>>>>>>>>>>>>

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja