joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Idola

Email Cetak

Baru lalu Indonesia diriuhkan oleh acara pilah pilih calon legislatif. Para pemilih berhak memilih idolanya dengan cara mencoblos nama perseorangan ataupun nama partainya. Sebelumnya para kontestan diberi kesempatan untuk kampanye. Tebar pesona pamer kelebihan dan tampang.

Tidak heran bila di masa kampanye jalanan jadi ramai. Bahkan terkesan semerawut. Aneka bendera, baliho, umbul-umbul ataupun spanduk berupaya keras merebut simpati masyarakat. Tiap tim sukses punya strategi untuk menempatkan iklan-iklan di posisi paling mudah dilihat.

Kebablasan. Ruang publik yang seharusnya dijaga kebersihan serta keasriannya justru jadi sasaran penempatan iklan kampanye. Hasilnya tiap persimpangan jalan riuh bendera partai. Terkadang kibaran bendera membuat pengendara kesulitan melihat rambu pengatur lalu lintas.

Belum lagi mobil-mobil yang telah dipasangi stiker ikut seliweran di jalanan. Dari yang hanya bagian kaca belakangnya saja hingga mobil mewah yang seluruh bodi mobilnya tertutup stiker partai tertentu. Jangan tanya soal biaya dari pesta demokrasi ini. Sudah pasti tiap calon yang ingin tampil mengorbankan minimal waktu dan juga uangnya.

Tercatat 6.608 Caleg ikut memperebutkan 560 Kursi DPR di Pemilu tahun 2014 ini. Bayangkan betapa ketatnya persaingan merebut simpati masyarakat dalam kontes ini. Dari begitu banyaknya orang-orang yang berminat duduk jadi calon wakil rakyat. Akhirnya akan terseleksi dan akan ada 6048 yang gagal dan kecewa.

Memang sudah banyak dari para calon ini yang mempersiapkan diri untuk menang. Tapi tidak sedikit para calon wakil rakyat yang sudah keluar modal besar dan berpengharapan besar tidak siap untuk gagal. Riuhnya dukungan saat kampanye tidak berbanding lurus dengan hasil kenyataan di saat pencoblosan. Harapan tidak pernah sesuai dengan kenyataan.

Para pendukung yang saat kampanye heboh joged ikutan nyanyi sambil berebut uang saweran tidak serta merta akan memilih calon tersebut. Peserta kampanye seperti itu modusnya memang cari makan. Mereka tidak melihat partai mana yang berkampanye. Bagi mereka yang penting ikutan pesta dan berharap dapat saweran.

Bagi rakyat yang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Kampanye ibarat pesta. Itu adalah saat di mana para calon wakil rakyat bagi-bagi uang. Tentu sayang bila tidak ikutan. Itu adalah waktu di mana para calon wakil rakyat tampil baik. Menebar janji-janji sambil bagi-bagi rejeki. Meskipun rakyat sudah bosan makan janji manis pemilu. Tapi meraup uang saweran adalah pendapatan sampingan yang jarang.

Teman-teman di dunia fotografi juga ikutan menjepret rejeki di saat jelang pemilu. Orang-orang yang merasa layak jadi wakil rakyat rela keluar uang untuk di tata sedemikian rupa di depan kamera. Kita percaya. Bahwa tampang seseorang itu sedikit banyak mencerminkan jati dirinya. Sikap, ekspresi, sorot mata dan pakaian harus diatur untuk hasil foto yang layak pajang di pinggir jalan.

Wajah-wajah serakah yang maunya menang sendiri diatur senyumnya supaya kelihatan tulus layak dipercaya. Bentuk tubuh yang tambun tidak dibidik dari samping supaya perut buncit yang tidak proporsional sedikit tersamar. Badan lembek nan letoy dipaksakan tahan napas supaya nampak tegap. Bedak dipoleskan supaya kelihatan segar dan bugar. Hingga akhirnya teknik editing komputer memaksimalkan segalanya sebelum foto naik cetak.

Sebagai orang yang telah lama berkecimpung di dunia fotografi. Saya meyakini teknologi fotografi masa kini lebih mampu merehabilitasi tampang seseorang. Fotografer yang berpengalaman akan cerewet mengatur ekspresi dan posisi tubuh klien yang berniat ikutan pemilu. Jika fotografer tersebut hanya diam sambil terus memotret Anda. Maka sebagai model harusnya Anda curiga. Ada dua kemungkinan yang menyebabkan hal seperti itu.

Pertama. Fotografer tersebut sudah tidak sanggup lagi memotret Anda. Mungkin tampang Anda sangat tidak layak jadi wakil rakyat. Atau, kemungkinan ke dua, fotografer tersebut merupakan tim sukses dari kandidat calon wakil rakyat saingan Anda. Sehingga fotografer itu berupaya membuat foto Anda tampil apa adanya alias hancur lebur.

Foto yang terpampang di kertas suara jangan diremehkan fungsinya. Kelak foto itulah yang menjadi dasar pertimbangan akhir bagi para calon pemilih. Biasanya setelah surat suara di buka di dalam bilik suara. Tiap pemilih akan melihat-lihat dahulu semua wajah yang terpampang. Ada dua kemungkinan mengapa pemilih melakukan tindakan pencoblosan pada foto tertentu.

Kemungkinan pertama. Pemilih tersebut mencoblos foto pilihannya karna memang sudah berketetapan hati berdasar pendekatan money politic atau tebar pesona yang telah Anda lakukan. Kemungkinan ke dua, si pemilih belum punya pilihan. Hatinya masih goyah memilih nama atau foto mana yang akan dicoblosnya.

Dalam kasus seperti itu, foto-foto dengan strategi bagus akan punya peluang untuk dicoblos. Pastikan foto Anda tampil mempesona. Ekspresi senyum manis mengundang coblosan. Atau kalau berani tampil beda. Sekalian pasang foto dengan tampang hancur sehancur-hancurnya. Supaya pemilih terpancing emosi lantas mencoblos foto menyebalkan itu dengan marahnya.

Tentu saja cara ini bukan masalah dan hasil coblosan apapun alasannya akan dihitung sebagai satu suara yang sah. Strategi ini mungkin dapat digunakan pada acara pemilihan presiden nanti. Para calon yang ingin tampil jadi presiden mulai pasang kuda-kuda sejak sekarang. Bermodal hasil perhitungan suara cepat, para calon dan tim suksesnya berupaya galang dukungan.

Melihat hasil perhitungan suara cepat dan aturan seperti sekarang ini. Sudah pasti akan terjadi koalisi. Terjadi merjer beberapa partai supaya jumlah suara memadai guna mengusung calon presiden dan wakil yang dijagokannya. Sesuai catatan sejarah. Berkumpulnya beberapa partai yang dasarnya berbeda akhirnya akan berujung pada masalah. “Orchestra penuh bintang adalah bencana!” Teman saya berteori dengan nada pasti.

Dalam dunia fotografi banyak juga yang butuh panutan. Menurut saya. Sosok yang kita pilih lantas dijadikan idola sebagai pemicu semangat berfotografi tidak harus berlatar fotografer juga. Ada tokoh fotografer yang menjadikan penulis, pelukis, penyayi, model ataupun penyair sebagai panutannya.

Paling aneh ketika ada fotografer yang mencibir pendapat orang umum yang bukan fotografer saat mengapresiasi hasil karya fotonya. Baginya hanya fotografer yang punya karya lebih baik atau yang telah lebih lama pegang kamera dari dirinya lah yang boleh menilai karyanya.

“Tanpa punya karya foto yang lebih baik dari foto saya, Anda dilarang berkomentar.” Demikian status yang pernah terbaca sebagai pengiring sebuah karya foto dengan momen hasil settingan di sebuah jejaring sosial. Terus terang saya tidak mengerti pendapatnya. Mengapa pula kita justru semangat berkarya fotografi hanya untuk membuat fotografer lain terkesan.

Ketika harus memilih idola, seperti halnya dalam dunia politik, jangan hanya mengidolakan tokoh berdasar kekaguman atas kekayaan atau tampangnya saja. Dalam dunia fotografi juga sebaiknya jangan hanya terpaku pada prestasinya saja saat memilih calon idola.

Paling tidak kita harus meneliti mengenai bagaimana cara si calon idola berproses kreatif fotografi dan caranya meraih prestasi. Semoga penelitian singkat itu memberi kesadaran kepada kita semua. Bahwa paling penting adalah bagaimana tokoh idola pilihan itu nantinya mampu memberi inspirasi secara positip kepada banyak orang.

“Ketika ada presiden yang ingin jadi penyanyi maka jangan heran jika akhirnya ada penyanyi yang nekad ingin jadi presiden. Lalu jangan pula terkejut ketika ada penipu yang tega berambisi untuk jadi idola.” Ujar teman saya yang statusnya calon tetap. Dalam arti tetap jadi calon selamanya.


Bayu Sahaja

 

>>>>>>>>>>>>>>  Jangan baca tulisan sebelumnya >>>>>>>>>>>>>>>

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja