joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Permisif

Email Cetak

Jangan percaya pada pengemudi yang suka memarkir kendaraannya sembarangan. Statemen ini bukan kampanye ala caleg picisan yang marak akhir-akhir ini. Ini sekedar ocehan wujud keprihatinan saya pada tingkah laku pengendara yang suka parkir seenaknya hingga merugikan orang lain.

Bagaimana harus sabar ketika melihat sebuah mobil terparkir menyerong sedemikian rupa di parkiran mall. Padahal garis pembatas yang dibuat dengan cat warna putih masih nyata terlihat. Posisi mobil akhirnya memakan tempat yang harusnya cukup untuk dua mobil. “Yang punya mobil pasti pemilik mall ini.” Ujar petugas parkir menghibur diri kala menemukan mobil parkir menyimpang itu.

Akibat terlalu menyerongnya posisi mobil tadi. Mobil-mobil lainnya dengan terpaksa mengikuti irama parkir menyimpang itu. “Lihatlah. Akibat sistemik yang terjadi. Parkiran satu deret mobil jadi brengsek semua.” Gumam teman yang duduk di sebelah saya.

sudah banyak yang mengatakan. Bahwa tingkah laku pengemudi dalam berlalu lintas merupakan cerminan dari tingkah laku orang tersebut dalam kehidupannya secara umum. Pengemudi yang suka potong jalan menggambarkan orang yang tidak sabar dan gemar merebut rejeki orang.

Ada juga yang hobinya menghalangi kendaraan lain untuk melaju. Sudah tahu kendaraannya berjalan lambat tapi nekad ambil jalur cepat. Ada juga yang kelakuan tidak mau ngalah. Terlihat dari gaya berkendara yang selalu mengejar mobil yang mendahuluinya untuk kemudian balas menyalipnya.

Kesabaran kita kerap diuji oleh adanya kelakuan supir kendaraan yang berjalan pelan tapi di jalur kanan. Terkadang masalahnya bukan lantaran kendaraannya itu tidak laik jalan. Tapi karna supirnya sedang asyik sibuk bertelpon atau mengetik pesan singkat di hape pintarnya sambil nyetir.

Jalur kanan seharusnya merupakan lajur untuk mendahului. Seringnya malah dijadikan sebagai jalur lambat. Bahkan dijadikan tempat parkir kendaraan proyek besar yang tidak sanggup lagi meneruskan perjalanannya. Penyebabnya jelas. Kendaraan berstatus si raja mogok itu disiasati supaya lolos uji kelayakan. Ini modus pengusaha rakus untuk meraup untung. Tidak peduli bisnisnya jadi penyebab kemacetan yang membuat rugi banyak orang.

Melihat kenyataan di negara lain. Bahkan bukan hanya saat berkendara di jalan raya mereka sopan dan saling berkenan memberi jalan. Di tempat berjalan kaki semisal tangga berjalan mereka juga memberi ruang sebelah kanan untuk sesiapa saja yang ingin cepat. Tidak seperti di negara kita tercinta ini. Ruang tangga berjalan sesak diisi pasangan yang mesra dan tega bergandengan tangan. Sehingga menutup kesempatan orang lain yang ingin kejar waktu untuk mendahului.

Ketika menyeberang jalan pada tempatnya. Pengendara mobil atau motor berhenti untuk mempersilahkan orang yang berjalan kaki lewat lebih dulu. Saya terharu hal seperti itu justru dialami ketika berada di negri orang. Padahal kita meyakini bahwa budaya mereka itu adalah individualistis.

Tapi mengapa pula di negara kita yang katanya ramah tamah, murah senyum dan kekeluargaan. Pengemudi kendaraannya mempertontonkan tingkah yang bertentangan dengan semua ajaran kebaikan. Main serobot, menerobos lampu merah, parkir seenaknya dan berhenti di tempat yang tidak seharusnya hingga menghambat kendaraan lainnya.

Kenyataan seperti itu adalah gambaran makin permisifnya masyarakat kita terhadap pelanggaran. Apapun situasinya, jika pelanggaran seperti itu sudah melekat di masyarakat dan menjadi budaya. Maka tindakan pelanggaran terhadap haknya orang lain justru dipuji sebagai tindakan pintar. “Mungkin itu yang dikatakan bahwa hidup tidak perlu pintar. Yang penting pintar-pintar.” Teman saya menambahkan.

Pintar mencari dan melihat peluang memang butuh keterampilan dan juga pengalaman. Namun jika tindakannya melanggar hak orang lain, yang menurut saya merupakan tindakan korupsi juga, kemudian kita beri ruang toleransi. Maka pelaku tolerasi pada tindakan koruptif seharusnya malu. Apalagi ikutan koar-koar menghujat tersangka korupsi yang dibekuk pihak berwajib. Sebab hakikatnya pelaku korupsi itu kelakuannya sama saja dengan dirinya.

Di dalam dunia fotografi juga terjadi hal demikian. Keterlibatan orang pintar-pintar di hobi ini punya dua sisi laksana mata uang. Di satu sisi tindakan pintar-pintar tadi mampu menghasilkan karya foto mencengangkan juga mendunia. Di sisi lainnya, pintar-pintar tadi diterapkan dengan menghalalkan segala cara pada proses kreatifnya.

Sementara banyak sekali para penghobi fotografi yang permisif dan bahkan membanggakan hasil karya yang dicipta dengan cara menyimpang. Bagi mereka yang terpenting adalah hasil akhir. Bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana karya fotonya mampu meraih gelar juara atau dibeli orang. Terkenal lalu punya kesempatan ambil untung dari undangan menyebarluaskan cara-cara menipu untuk meraih juara.

Para pendukung aliran halalkan segala cara hanya mengagumi hasil akhir. Nihil melihat apa yang sesungguhnya dilakukan ketika fotografer canggih tersebut berkreasi. Di saat nantinya sadar, mereka sudah terlambat. Sebab pelakunya sudah terlanjur dijilati sebagai idola, mbah guru atau master.

Esensi fotografi adalah pada hasil akhir. Seperti kata orang, bahwa hasil akhir dari kreatifitas fotografi adalah ketika foto tersebut telah dicetak dan terpajang pada suatu ruang. Entah itu ruang pameran, ruang kantor, ruang tidur, ruang tamu, kamar mandi ataupun halaman media cetak.

Namun guna mencapai prestasi hasil akhir tadi, bukan berarti semua fotografer boleh melupakan etika dalam prosesnya. Lantas menghalalkan segala cara untuk berkreasi. Apalagi bila kreatifitasnya lantas mengabaikan nilai-nilai kehidupan. Merusak alam, menyiksa, mematikan makhluk yang hidup ataupun menelanjangi anak di bawah umur yang lugu atas nama keindahan seni fotografi. Mengerikan ketika tata cara berkorupsi seperti itu disebarluaskan. Apalagi dalam paket-paket pelajaran berbayar atas nama seni fotografi.

Teknik menata binatang untuk dijadikan obyek demi menghasilkan karya yang bicara adalah tipu muslihat yang kelihatannya hebat. Padahal tindakan begitu merupakan pangkal mula budaya para fotografer melupakan arti sabar berburu momen nyata. Dalam hal ini saya membatasi diri dan konsisten hanya tidak sepakat pada teknik mengarahkan gaya binatang dengan cara yang kejam. Umumnya dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti tali, lem, alkohol, jarum, kawat ataupun dinginnya kulkas.

Tentu saja kebanyakan pelakunya adalah kalangan yang memang sudah gelap mata. Malas berproses atau kaum yang memang sama sekali tidak mengerti seni fotografi. Sehingga tawaran jalan pintas untuk terkenal menggunakan metode apapun pasti menggiurkannya. Terlebih pengajarnya merupakan tokoh yang kebetulan sukses menggunakan tipu muslihat. "Dipraktekan langsung oleh master fotografi yang sudah tersohor di dunia dan akhirat." Begitu bunyi promosinya mengundang peserta.

Pada akhirnya. Para mantan peserta pelatihan tata cara halalkan segala cara tadi menyesal. Mereka malu hati juga merasa rugi. Tapi apa daya sudah terlanjur bayar untuk mempelajari tata cara berkesenian fotografi dengan cara yang ternyata konyol. Kalaupun peserta menjadi bisa motret, hasilnya selalu begitu-begitu saja. Tidak beda jauh tapi tidak pernah lebih bagus dari sang master pengajarnya.

“Fotografi itu sederhana. Pahami prinsipnya. Fotografi adalah sebuah tindakan yang prosesnya tidak dapat diwakilkan. Bacalah buku untuk keluasan cakrawala berpikir. Perhatikan dan nikmati karya seni lainnya supaya pikiran terbuka. Bahwa selalu tidak ada harga yang pantas sebagai pengganti nilai sebuah karya seni yang agung. Jadi jangan berkesenian hanya dilandasi semangat ingin jualan.” Ujar teman ini pelan sambil menatap mata saya.

“Sudahlah! Semua orang sudah tahu. Selama ini penulis KataFoto juga permisif pada tindakan korupsi di dunia fotografi!” Teman yang satunya menghardik galak. Mungkin dia berpikir bahwa tidak ada gunanya lagi menasehati saya yang sudah terlalu empuk kepalanya.

“Maksudnya?” Tanya saya pelan sambil coba memahami arah amarah teman ini.

KataFoto tidak pernah terang-terang menyebut nama pelaku korupsi di dunia fotografi. Bukankah itu merupakan tindakan permisif juga?” Sambut teman tadi makin galak.  


Bayu Sahaja

>>> tulisan KataFoto sebelumnya.

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja