joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Bagi

Email Cetak

Pada akhirnya semua pencapaian di dunia ini akan berujung pada kenikmatan berbagi. Boleh saja ada orang jungkir balik berjuang meningkatkan pendapatan atau pun kekayaan. Namun bila belum menikmati indahnya berbagi sepertinya belum layak dikatakan sebagai manusia yang berbahagia.

Itu mengapa acara berbagi seputar proses kreatif menekuni hobi fotografi bertema, ‘Diskusi dan Bedah Foto. Proses Kreatif Karya Foto Juara’, yang dipersembahkan oleh Batam Photographer atas gagasan Wan Batamasya sangat sayang untuk dilewatkan.

Vincentius Ferdinand, Calles Gunawan, Ricky Firmansyah dan Danis Suma Wijaya adalah sahabat yang telah rela luangkan waktunya. Untuk berbagi bagaimana proses kreatif mereka mencipta karya foto yang akhirnya berhasil meraih gelar juara. Bertempat di BisaNgopi, sore hari tanggal 11 Maret 2014, acara dilangsungkan. Tentu saja kisah yang mereka bagikan adalah sesuatu proses berkarya yang memang layak untuk secara bangga diceritakan.

Di tengah keriuhan jagad fotografi masa kini. Seperti disaksikan. Terlalu banyak acara berkedok semangat berbagi teknik kreatif fotografi yang dikemas secara komersil dan bombardir. Tentu saja kita tidak dapat menyamaratakan bahwa semangat ambil keuntungan seperti itu sebagai tindakan negatip. Namun kita harus curiga akan anjuran ataupun pelatihan fotografi jalan pintas. Bagaimana mungkin ada kemasan sistem pelatihan yang membuat orang mampu mencipta karya foto juara dalam sekejap mata.

Sembarang orang nekad berbagi teknik fotografi yang belum tentu benar. Ada yang berbekal kemenangan penuh kontroversi yang pernah diraihnya. Bahkan ada pula yang kental unsur penipuan saat meraih juara di suatu ajang lomba foto. Tapi ya ampun. Makhluk tersebut tetap nekad bagikan teknik manipulasinya saat meraih gelar juaranya. Saya pribadi melihat tindakan begitu hanya berdasar semangat pembenaran. Sebagai upaya mencari pengakuan. Kalau dirinya memang layak jadi juara.

Beberapa tokoh fotografi, melalui postingannya di dunia maya terbaca gelisah dan menyesali adanya proses karbitan dalam mencipta karya foto juara. Hal itu perlu juga kita cermati. Disinyalir ada orang yang mahir menata pencahayaan serta momen, menggalang acara berburu foto bersama. Biasanya berbiaya mahal dan dilakukan pada hari Sabtu ataupun Minggu.

Di lokasi yang sudah ditentukan. Beragam properti telah disiapkan panitia yang memang mahir di teknik itu. Tersedia model atau obyek serta tata cahaya yang sudah dirancang sedemikian rupa. Peserta tinggal terima bersih dan boleh hadir cukup membawa kartu memori dan laptop saja. Bahkan bila kelupaan membawa kartu memori, panitia juga menyediakan merk tertentu dengan harga yang pantas.

Setelah menyimak uraian singkat dari orang yang dijuluki master, mengenai karya foto seperti apa yang diharapkan dari sesi pemotretan tersebut. Masing-masing peserta yang sudah rela merogoh kocek untuk membayar biaya, dipersilahkan antri satu per satu memasangkan kartu memorinya pada kamera yang juga telah disediakan pihak panitia.

Posisi kamera sudah terpasang di tripod dan tidak boleh diganggu gugat. Panitia tidak mengijinkan masing-masing peserta menggunakan kameranya sendiri untuk memotret. Tentu tujuannya baik. Selain demi mendarah dagingkan budaya antri yang kian merosot di negeri ini. Juga, supaya banyaknya lampu yang panitia persiapkan tidak rusak akibat kamera peserta yang sibuk jeprat-jepret karna haus momen bagus.

Karya foto yang dihasilkan tentu saja sangat bagus. Baik secara sudut bidik maupun tata cahaya. Kualitas super ini sangat membanggakan bagi beberapa peserta. Biar bagaimana karya foto tersebut adalah hasil karya yang otentik dihasilkan oleh peserta. Kita juga harus percaya soal itu. Sebab mereka adalah orang yang berada di belakang kamera.

Mereka adalah orang yang mengintip dari lubang view finder dan lalu menekan tombol rana sesuai aba-aba panitia. "Bukankah tugas memencet tombol rana adalah tugas prerogatif seorang fotografer. Mereka secara sah dan meyakinkan adalah senimannya!" Begitu ujar seorang teman memberi pembelaan soal kursus singkat itu.

Di akhir sesi pemotretan. Sang master memberikan pelatihan singkat cara mengelola secara komputer hasil foto yang sebelumnya telah dieksekusi. Menaikan ataupun menurunkan suhu warna dilakukan secara ringkas karna karya foto yang dihasilkan segalanya telah pas. Hasilnya, tara. Masing-masing peserta banga. Terlihat dari wajah yang sumringah berbunga-bunga. Telah berhasil mencipta karya foto juara yang luar biasa.

Banyak peserta yang kemudian mencetak karya foto hasil hunting tersebut. Membingkainya dengan pigura mewah lalu memajangnya untuk pamer di ruang tamu atau pun ruang kantornya. Bahkan ada pula yang coba-coba mengirimkan hasil karya foto tersebut pada suatu ajang lomba foto di belahan dunia lainnya. Makin bangganya hati kala foto itu berhasil meraih gelar juara.

Saya percaya bahwa the man behind the gear adalah yang paling penting dalam menghasilkan karya foto juara. Namun jika proses kreatif dalam mencipta karya foto seperti yang telah diuraikan di atas. Apakah hati nurani kita tetap dapat membanggakan hasil medali yang diraih dengan proses kreatif semacam itu.

Memang apa yang dibagikan oleh empat sahabat mengenai proses kreatif karya foto juara bukan bicara kosong. Mereka semua patut dan sangat layak untuk bangga. Mereka dapat secara terbuka menceritakan segalanya. Terlebih setelah kita mendengar bagaimana Ricky Firmansyah mengatasi segala keterbatasannya untuk dapat bersaing di ajang Canon Photo Maratahon 2013 di Singapura. Karya fotonya yang menyabet gelar juara berjudul Pray.

Calles Gunawan juga mengagumkan. Karya foto yang sebelumnya dipandang sebelah mata karna penuh flare dan noda air. Justru berhasil meraih kemenangan di ajang Singapore International Photography Award 2013 dengan judul foto Goal Desire. Proses kreatifnya menggambarkan kelasakannya. Menciprati lensanya dengan air lalu mengupayakan sudut bidik melawan matahari dengan angle rendah yang beresiko membuat kameranya basah adalah pengorbanan dari hasil belajar.

Dari sisi fotografi landscape. Danis Suma Wijaya tanpa henti terus bereksplorasi mencipta karya foto pemandangan matahari terbit dan indahnya panorama senja. Hasil karya fotonya mengundang decak kagum banyak pemirsanya. Kita percaya bahwa karya foto keindahan alam seperti itu butuh banyak pengorbanan untuk mendapatkannya.

Keberhasilan Danis Suma Wijaya meraih gelar juara di ajang lomba foto Tripod Photo Contest 2014 by Brent Haven di USA adalah kebanggaan nyata. Kemampuannya melihat secara fotografis terasah nyata dari tiap langkahnya berburu moment matahari terbit dan tenggelam. Lihat saja konsistensinya saat terlambat hadir di acara bedah foto hari itu. “Saya ngebut kejar acara ini sehabis hunting sunset.” Ujarnya riang.

Dari dunia fotografi dengan obyek kecil, hadir Vincentius Ferdinand. Tidak perlu diragukan lagi kemampuannya memotret momen kecil. Berbagai piala, medali dan penghargaan berhasil diraihnya dari beragam lomba kelas nasional dan juga internasional. Anjurannya sederhana namun dalam maknanya. "Untuk para fotografer yang suka memotret obyek di alam sudah seharusnya ikut menjaga kelestarian alam". Ini memang anjuran yang dirasa klise oleh banyak orang.

Namun di tengah maraknya pelajaran ngawur serta prestasi dari karya foto yang dicipta dengan mengabaikan lingkungan hidup dan tega melakukan setting yang menghalalkan segala cara, anjuran itu menjadi guyuran hujan yang menyejukan. Bahwa seni fotografi yang dilakukan dengan kecintaan serta kepedulian terhadap lingkungan hidup masih ada. Dan terbukti, karya yang berpihak kepada kelestraian alam punya kesempatan untuk tampil mengemuka di ajang lomba foto nasional atau pun dunia.

Dari semua yang disampaikan para juara adalah inspirasi tentang bagaimana menghargai proses. Bahkan di akhir acara, sebagai penutup Andreas Messah sebagai dedengkot fotografi di Batam, menyampaikan kalimat indahnya. “Momen bagus hanya tersedia bagi fotografer yang setia pada kemeranya.”

Saya selalu percaya terhadap proses. Dalam fotografi, proses kreatifnya tidak dapat diwakilkan. Tiap pribadi harus mengalaminya sendiri. Untuk mengerti arti indahnya berproses di dunia fotografi. Bahkan terkadang prosesnya lebih indah ketimbang hasilnya.

Akhirnya. Inti dari kisah berbagi ini, sejatinya harus dimulai sejak kali pertama proses kreatif dalam berkarya Anda lakukan. Berproseslah di dunia fotografi dengan semangat kepedulian terhadap lingkungan hidup yang dilandasi moralitas dan kejujuran. Sehingga kelak Anda punya kesempatan membagikan proses kreatif itu dengan bangga, membahagiakan orang lain dan diri Anda sendiri.


Bayu Sahaja

Tulisan KataFoto sebelumnya >>>

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja