joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Asing

Email Cetak

Akhirnya saya menyerah dan membebaskan semua pembaca untuk menyimpulkan sendiri. Apakah tulisan ini merupakan tulisan bersambung atau kisah yang berkait dengan peristiwa yang baru berlalu. Silahkan simpulkan sebab itu adalah hak Anda. Namun satu hal yang harus saya ingatkan. Anda tidak perlu bertanya kepada siapapun soal ini. Sebab sudah pasti pembaca lain akan mengaku tidak tahu perihal ini.

Mungkin Anda menduga, si X atau si Y sudah membaca tulisan ini. Tapi saya mohon jangan gunakan praduga Anda itu untuk kali ini. Gunakanlah azas praduga tidak bersalah. Sebab pada intinya tulisan ini hanya berkutat soal rasa kehilangan saya terhadap seseorang. Betapa saya merasa diabaikan dan tidak dianggap. Seorang teman menghilang begitu saja tanpa kabar apalagi pesan.

Padahal orang yang telah tega mengabaikan saya itu sudah saya anggap sebagai sahabat. Harus juga Anda ketahui. Orang yang saya maksud adalah orang yang selalu menjadi pilihan terakhir ketika saya butuh pinjaman uang. Itupun jika badan IMF tidak lagi berkenan memberikan pinjaman buat saya. IMF yang saya maksudkan di sini adalah Istri, Mertua dan Family.

Ya, benar! Seperti telah saya duga. Sebagai tukang gosip, Anda pasti sudah tahu. Dia yang saya maksudkan adalah Mas Turbasi. Seenaknya dia menghilang tanpa kabar. Lenyap bagai ditelan buaya. Bahkan di tempat ngopi yang rutin kami kunjungi, tidak juga dia meninggalkan ampas kopi. Saya betul-betul kehilangan dirinya. Padahal kali ini keinginan berjumpa dengannya bukan soal urusan pinjam meminjam uang.

Tidak disangka-sangka. Pagi tadi secara kebetulan saya bertemu dengannya di areal perkebunan pinggiran pulau Batam. Suatu pertemuan di tempat yang sama sekali tidak terduga. Awalnya tujuan saya ke sana untuk memotret serangga. Di saat sedang asyik mengamati dan mencari sudut bidik adegan kepik kawin. Ujung mata saya melihat sesosok makhluk telah berdiri di depan saya. Memegang cangkul lengkap dengan pakaian dan perlengkapan petani pada umumnya.

Kaget. Saya langsung menyadari kalau sosok itu adalah Mas Basi yang selama ini saya cari. Tidak ada ekspresi kaget atau takut. Sebab kalau urusan takut, seharusnya saya yang takut. Takut Mas Turbasi ingat soal hutang saya padanya.

Sosok Mas Basi makin nyata ketika dia membuka topi capingnya. Seminggu tidak berjumpa dengannya sungguh drastis Mas Basi berubah. Dia kelihatan lebih hitam. Tanpa basa-basi dia melangkah. Saya mengikutinya menuju ke sebuah pondok di tengah perkebunan itu. Setibanya dipondok yang diteduhi rimbunan pohon asem dia menceritakan segalanya. Saya merasa Mas Basi tidak perlu merasa bersalah akan keputusannya. Buat saya, halal saja jika dia berniat mengubur dirinya untuk menghilang tanpa jejak.

Sambil menyuguhkan kopi dia bercerita. Menjadi petani adalah keputusannya. Dan seperti halnya keputusan juri lomba foto pada umumnya, keputusan itu bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Itulah kesimpulan dari apa yang Mas Basi sampaikan secara panjang lebar kepada saya. Saya hanya mendengarkannya saja. Suaranya datar dan nyaris tanpa ekspresi saat dia mengungkapkan semua itu.

Menurut saya, Mas Basi tidak harus menjual semua pelaratan kameranya. Karna mungkin saja dia hanya sedang jenuh atau bosan. Itu wajar. Seperti yang banyak dialami oleh banyak orang. Namun menjual semua peralatan yang merupakan kesukaan ataupun hobi kita. Sepertinya ada yang salah dengan langkah begitu.

Anda boleh tertawa ataupun heran. Ketika mendengar Mas Turbasi mengaku berhenti memotret karena semua produk kamera yang dia gunakan adalah buatan asing. Mas Turbasi juga bilang hanya mau memotret lagi bila Indonesia sudah mampu memproduksi kamera sendiri. Ujarnya lirih sambil menatap mata saya, “saya malu terus-terusan jadi pengguna.”

Bah! Menurut saya apa yang menjadi alasannya merupakan sebentuk citarasa nasionalisme yang kebablasan. Tapi mau menilai apa lagi padanya. Semua orang sudah paham kalau Mas Basi adalah lulusan sekolah kebablasan. Pikirannya terkadang aneh dan patut diduga kalau dia butuh disembuhkan. Tapi sudahlah. Kita yang waras seharusnya sadar. Memang percuma menunggu bangsa Indonesia menyadari betapa lemahnya jadi bangsa pengguna.

“Boleh saja kita hebat memotret! Tapi lihatlah siapa yang sesungguhnya hebat? Kita hanya bisa bersorak-sorai mengagumi juga menjilati siapa yang berhasil meraih juara di ajang lomba foto. Tapi hasil sesungguhnya dari itu semua buat siapa?” Suara Mas Turbasi terdengar seperti menahan tangis.

Saya ikutan terharu meski bingung menanggapinya. “Kamu mengerti apa yang saya maksudkan?” Tanyanya serius sambil melihat kearah kamera canggih yang dengan bangga saya kalungkan di leher.

Dalam hati saya memang mengerti. Namun secara bersamaan otak saya menolak kesadaran itu. Saya lebih memilih untuk meyakini bahwa Mas Basi sedang kumat. Gangguan jiwa akut akibat trauma digebuki di masa sekolahnya dulu itu kambuh lagi. Seperti diketahui, akibat sempat duduk di sekolah main tendang dan gebuk itu perasaan Mas Turbasi yang sehalus amplas sempat terluka.

Buat saya pribadi. Apa yang diuraikan Mas Turbasi terlalu banyak benarnya. Tapi kenapa juga harus berhenti menikmati hobi memotret hanya karna bangsa Indonesia yang kita cintai ini belum mampu membuat kamera. Kalaupun akhirnya kita berhenti lantas menunggu sampai Indonesia mampu memproduksi kamera. Mungkin penantiannya akan berlangsung hingga kita mati.

“Menurut saya. Seni itu adalah sesuatu yang universal. Jadi mengapa harus resah bila ada orang yang keranjingan menyanjung-nyanjung karya foto yang berhasil menembus website luar negeri yang labelnya internasional itu. Bukankah itu yang namanya kebanggaan?” Ujar saya coba mencari celah pembenaran.

“Selalu silau terhadap segala yang berbau asing. Seperti kita selalu takjub lalu mengelu-elukan siapa saja yang karya fotonya muncul di website-website luar negeri. Itu adalah wujud nyata dari ketidakcintaan kita kepada produk dalam negeri. Kalau kelakuan begitu dijadikan budaya. Mau dibawa kemana jati diri bangsa kita ini?” Sambut Mas Turbasi dengan suara tersedu.

“Yang lebih sulit diterima oleh akal sehat.” Sambung mas Basi lagi, “ketika pelaku yang menyanjung-nyanjung fotografer yang karya fotonya tampil di website buatan luar negeri itu adalah tokoh penggiat fotografi di dalam negeri. Dan gilanya lagi. Beberapa pelakunya itu adalah pengelola website komunitas fotografi dalam negeri pula.” Tangis Mas Basi tak terbendung lagi setelah mengatakan kalimat ini.

Saya mulai mengerti apa yang dirasakan Mas Turbasi. “Kenapa kita harus terus mengagumi dan menjilati karya foto yang tampil di website luar negeri. Kenapa kita tidak mulai mengangkat harkat dan martabat produk dalam negeri kita sendiri. Kenapa?” Dengan nada tanya yang makin ekspresif. Saya mulai jengah dengan nada rengekan Mas Turbasi. Menurut saya, gayanya mulai berlebihan. Seperti gaya dialog yang biasa ada di sinetron picisan.

Setelah sekian lama menunduk dan terisak akhirnya Mas Turbasi bicara lagi. Matanya merah. Dia bilang, “pokoknya keputusan saya mutlak tidak dapat digganggu gugat. Tidak akan menyentuh kamera lagi hingga produk fotografi mampu dicipta oleh bangsa kita sendiri. Bangsa Indonesia!” Ujarnya dengan nada pasti.

Sekali lagi saya berusaha mengalihkan arah pembicaraan dengan menyambut perkataannya, “ngomong-ngomong cangkul dan arit yang Mas Basi pakai berkebun ini buatan mana?” Kami berdua spontan terdiam terpana ketika meneliti dan membaca tulisan. ‘Made in China’, pada gergaji, cangkul, palu dan arit di pondokan tengah ladang yang sunyi itu.


Bayu Sahaja

Tulisan KataFoto sebelumnya >>>

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja