joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Lasak

Email Cetak

Sekali lagi saya dikagumkan saat membaca berita harian Batam Pos Kamis, 30 Januari 2014. Sahabat berhasil meraih gelar foto terbaik kategori Digital Travel Colour di ajang lomba foto internasional bergengsi. Demikianlah, di ajang Singapore International Photograpy Award yang ke 60, Calles Gunawan berhasil meraih gelar Kwek Leng Joo Gold Medal – Best Section, dengan karya foto berjudul Goal Desire.

Seperti dikatakan Calles, yang juga dikutip harian lokal Batam sebagai awal berita. Saya harus mengaku, bahwa yang menganjurkan judul Goal Desire pada karya foto istimewa itu memang benar saya orangnya. Pembaca tidak perlu heran ataupun menyangsikan kemampuan saya dalam soal memberikan judul. Sebab itulah satu-satunya kelebihan yang bisa dibanggakan di balik begitu banyaknya kekurangan saya.

Saya mengenal Calles sebagai fotografer yang lasak, seperti pengakuannya. Grasa-grusu, tidak cepat puas dan selalu kerja keras untuk belajar. Keterampilannya memainkan laptop saat mendisain atau mengedit foto saja sudah membuat saya takjub. Seluruh tombol keyboard yang tersedia sepertinya berguna. Tekan sana dan sini menjadi solusi jalan pintas sebagai perintah untuk melakukan sesuatu pada komputer jinjingnya itu.

Pernah bertemu dengannya untuk meminta bantuannya mendesain fliyer suatu acara lomba foto. Tanpa sengaja saya melihat koleksi karya fotonya yang tersimpan pada laptopnya. Jujur saya terpana. Betapa deretan karya foto yang sudah pasti adalah karya yang telah diseleksi secara pribadi itu, sangat mengagumkan. Momen, ketajaman serta warna dari koleksi fotonya adalah hal yang utama. “Andai kita bertukar laptop dan isi-isinya. Pasti saya akan jadi juara.” Goda saya saat itu padanya.

Mulai dari karya foto serangga serta karya foto pemandangan tampil memukau. Hingga saya dipesonakan oleh sebuah karya yang katanya tidak pede untuk ditampilkan. Itulah karya foto yang sekarang meraih gelar foto Best of Section di SIPA 2013. Ketidak yakinan Calles terhadap karya foto tersebut akibat adanya bintik air yang jadi noda bulat-bulat terkesan seperti flare di luar kontrol.

Namun di mata saya, yang tidak tahu banyak soal aturan penjurian lomba foto. Karya foto Calles yang semula diberi judul, “Kick” itu sungguh luar biasa. Pada awalnya saya sendiri sempat mengkuatirkan tidak akan diliriknya karya foto tersebut pada kesempatan pertama. Kita semua tahu. Adalah penting membuat para juri lomba foto terpukau di pandangan pertama pada karya foto kita.

Dan pastinya kebanyakan juri tidak mau repot berdebat menghadapi kritik jika memenangkan karya foto di luar kebiasaan. Juri lomba foto itu cenderung terkukung pakem dan kaidah-kaidah fotografi dalam melakukan penilaian. Pencahayaan bagus, warna bagus, ketajaman mantap, momen tepat, bersih dan indah sepertinya merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah karya untuk layak menyandang gelar juara. Minimal kita akan dikesan begitu jika melihat rekam jejak karya foto juara yang ada.

Karya foto Calles yang mulanya diberi judul Kick punya noda besar berupa titik-titik air yang terkesan seperti flare. Perhatikan saja karya fotonya itu. Bulatan-bulatan putih terang yang berada di depan anak yang sedang menendang bola, jumlahnya tidak kurang dari duapuluh tiga. Bagi kebanyakan orang fotografi, flare adalah noda yang menggangu.

Tapi entah mengapa. Saat melihat karya foto Calles, yang kemudian saya sarankan untuk mengganti judulnya menjadi Goal Desire, flare tersebut terlihat fotografis. Terlebih tonal keemasan serta percikan air akibat aksi menendang si bocah itu menjadi sungguh klik dan memberi nyawa pada karya ini.

Saya percaya bahwa fotografi itu tidak lepas dari distorsi dan fotografi punya kesulitan menghadirkan kenyataan. Bahkan keterlibatan optik berupa lensa punya konsekuensi untuk hadirnya flare. Pendar cahaya pada hasil gambar akibat mengarahkan lensa langsung pada sumber cahaya, pada banyak kasus justru merusak keindahan karya foto. Namun pada sedikit karya, flare justru memberi nuansa keindahan yang otentik.

Seperti dikisahkan oleh Calles. Bahwa momen foto yang menggambarkan seorang anak hendak menendang bola di atas air merupakan adegan rekaan. Dalam fotografi tindakan melakukan penyutradaraan untuk mendapatkan sebuah hasil foto bercerita adalah hal lumrah. Pilihan sudut bidik rendah dan arah lensa melawan matahari menghasilkan karya berdimensi. Ditambah bunga flare yang justru menghidupkan karya itu.

Lepas dari bagaimana adegan di karya foto tersebut berhasil dicipta. Ada pengorbanan luar biasa yang dilakukan oleh Calles. Betapa kenekatannya memilih low angle sekaligus sengaja memerciki air di bagian depan lensa untuk memberi efek dramatis adalah keputusan matang. Suatu tindakan berdasar pengalaman belajar. Bahwa fotografi menuntut pengorbanan juga totalitas untuk hasil terbaik dan membanggakan.

Belum lagi pemotretan yang dilakukan berulangkali pada adegan tersebut. Ratusan kali memotret guna merekam adegan yang sama untuk kemudian mencari yang terbaik diantara yang baik adalah semangat yang perlu diadopsi para fotografer. “Momotret sekali lagi jauh lebih baik daripada nantinya mengeluhkan karya foto yang blur.” Ujar Calles menasehati saya saat bertemu dengannya di kedai kopi.

Sedikit yang mengetahui bahwa karya foto Calles tersebut diragukan oleh banyak orang. Saat dikirimkan pada suatu ajang lomba foto nasional dengan susunan juri internasional, karya itu sama sekali tidak dilirik oleh para panelis itu. Bahkan karya foto yang kini menyandang Gold Medal itu sama sekali tidak masuk dalam urutan 200 besar. Kita harus maklum dengan tidak masuknya karya foto itu dalam nominasi. Sebab kebanyakan juri lebih suka cari jalan aman.

Bukan salahnya juri lomba foto nasional ketika karya foto Calles dengan judul Goal Desire tersebut tidak masuk nominasi. Mungkin saja karya foto tersebut tidak sesuai dengan kriteria yang diharapkan pihak panitia. Sebab terlalu banyak variabel yang terlibat dalam proses penilaian di suatu ajang lomba foto.

Apalagi peserta yang kalah dalam suatu ajang lomba foto jumlahnya pasti banyak. Lalu vokal dalam protes. Sehingga memilih dan memutuskan suatu karya foto yang memenuhi kriteria fotografi yang umum adalah jalan aman. Padahal jalan aman seperti itu berpotensi menambah deretan karya foto juara yang nantinya jadi klise. Semoga kemenangan karya foto Calles mampu membuka mata para juri dan juga pemirsa umum. Bahwa keindahan karya fotografi demikian luas.

Sepertinya tidak cukup melihat sebuah foto hanya dengan mata untuk menilai keindahannya. Terkadang dengan meresapinya menggunakan mata hati, kita baru dapat memberi makna terdalam dari sebuah karya yang mulanya terlihat biasa-biasa saja atupun menabrak kebiasaan.

Seperti halnya dengan saya. Banyak juga yang baru menyadari bahwa flare itu bisa jadi indah. Ini adalah pelajaran yang semoga memberi daya dorong bagi para juri nantinya. Untuk punya keberanian menerobos batasan makna keindahan fotografis yang sesungguhnya.

Terimakasih Calles untuk inspirasinya. Keberanian, kejujuran, kerja keras, pantang menyerah dan konsistensi pasti punya kesempatan untuk tampil. Sambil menikmati secangkir kopi saya melanjutkan membaca berita koran lainnya. Koran ini memberi ruang cukup besar untuk membagikan inspirasi kisah sukses karya foto sahabat saya ini.


Bayu Sahaja

Tulisan KataFoto sebelumnya >>>

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja