joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Setting - 2

Email Cetak

Tulisan sebelumnya...

Akhirnya Anda bertemu rekan-rekan yang punya hobi sama. Kemudian Anda berburu foto bersama mereka. Sebagai pemula, supaya pertanyaan Anda sedikit berbobot. Sebaiknya jangan terlalu banyak tanya sebelum membaca buku petunjuk kamera yang Anda gunakan. Kalau soal gaya memotret, itu sih silahkan saja. Sebab tidak ada aturan atau batasan untuk perkara itu.

Proses memotret mulai Anda lakukan. Bila itu kali pertama pegang kamera. Tarik napas dalam-dalam. Tidak usah pakai kentut segala. Jika itu kamera DSLR, pegang bagian bawah di antara lensa dan bodi kamera menggunakan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan yang bertugas memegang grip bodi kamera dapat senantiasa leluasa bergerak. Pastikan jari telunjuk nyaman menekan tombol rana. Dan ibu jari bebas mengatur atau menggeser tuas di bagian belakang bodi kamera.

Dapat saja Anda sepenuhnya menyerahkan semua settingan itu untuk dipikirkan kamera. Setting auto memungkinkan hal itu. Menyerahkan pada pengaturan auto, maka tugas Anda selanjutnya hanya tinggal mengarahkan lensa pada obyek dan menekan tombol rana saja. Resikonya adalah Anda terlihat kurang profesional. Jika sebagai fotografer, Anda terkesan tidak sibuk kutak-katik kamera di saat pemotretan.

Dalam hal itulah urusan atur mengatur kamera diperlukan. Baik itu dilakukan untuk sekedar gaya ataupun memang mengerti apa yang Anda lakukan. Mungkin karna sebelumnya sudah sempat buka beberapa halaman buku petunjuk. Minimal, Anda tidak panik dan mengetahui bahwa kamera Anda tiba-tiba mati bukan karna rusak. Tapi  karna batrenya habis.

Atau mungkin Anda memang terlahir mahir berpura-pura. Sehingga aktingnya sebagai fotografer langsung demikian mempesona. Paling tidak tetap bisa bergaya di hadapan obyek foto berupa serangga yang sudah Anda setting sedemikian rupa di depan moncong lensa. Berhadapan dengan makhluk berkaki enam itu memang penuh tantangan. Sesuai pengalaman saya. Makhluk hidup yang liar itu sangat sulit diajak bekerjasama.

Setelah sekian lama jumpalitan cari sudut bidik. Terkadang saya tidak tahan untuk sedikit merekayasa tata letaknya untuk mendapatkan sudut bidik yang ideal. Menekuk ilalang tempatnya bertengger. Memotong ilalang yang mengganggu di bagian depan juga belakang, ataupun berusaha memindahkan serangga itu dengan perlahan. Melakukannya dengan senyap. Berharap tidak mengejutkan serangga itu dan membuatnya kabur ataupun terbang.

Akal inilah yang diduga sebagai awal mula yang nantinya berkembang menjadi setting-setting yang banyak orang bilang sebagai tindakan keterlaluan. Serangga ataupun binatang kecil yang memang sulit dikendalikan kemudian diupayakan dengan berbagai akal-akalan untuk dapat diatur sedemikian rupa. Dengan cara ini, banyak orang yang mengaku seniman fotografi kemudian merasa cerdas dan menghemat waktu. Tidak repot.

Hasilnya makhluk yang sudah nurut akibat terapan berbagai modus operandi tadi jadi lebih mudah diatur. Selanjutnya fotografer yang merasa seniman itu bisa melakukan setting sesukanya. Kebanyakan fotografer berupaya mengidentikan momen rekaannya itu sedekat mungkin dengan peristiwa-peristiwa kehidupan manusia pada umumnya. Hal ini tercermin dari bagaimana para seniman memberikan judul untuk karya fotonya yang berobyek serangga tersebut.

Piala, medali, penghargaan  ataupun sekedar tepuk tangan meriah adalah hadiah yang dapat diterima ketika dengan sukses menghasilkan suatu karya nyata. Bahkan “Like” di jejaring sosial juga merupakan tantangan yang menimbulkan gairah untuk terus berkarya demi meraihnya.

Akhirnya sang seniman fotografi kebablasan dan karya seninya dipertanyakan. Efek samping dari munculnya gugatan atau pertanyaan dapat mengakibatkan efek marah, menggigil, mual-mual, merasa kompak, hebat, makin semangat, merasa jadi superstar ataupun kebingungan. Semua efek itu sangat tergantung dari dosis pertanyaan yang diajukan khalayak ramai.

Jika Anda kuatir mengalami efek samping akibat kebablasan setting foto dengan obyek makhluk bernyawa yang liar, yang bikin menggigil laksana sakaw dikemudian hari. Ada resep kuno yang diduga mampu jadi penawarnya. Dianjurkan sebisa mungkin menerapkan atau melakukan setting yang masuk logika. Minimal logika Anda sendiri. Itupun jika fotonya hendak Anda nikmati sendirian.

Namun bila foto dicipta untuk dikonsumsi oleh banyak orang. Sebaiknya Anda memperhitungkan logika umum saat melakukan setting. Pikirkan akibat yang nantinya timbul di benak orang yang menyaksikan karya Anda. Semoga Anda berkreatifitas fotografi berbasis akal sehat. Atau bila Anda cukup waras. Boleh juga sedikit memandang ke masa depan. Bayangkan. Anda ingin dikenang sebagai apa.

Seperti saya ungkapkan di awal tulisan. Untuk mewujudkan segala sesuatu yang menyangkut niat mempertunjukan. Pasti ada serangkaian upaya yang namanya setting. Itu mengapa tontonan berupa film atau komik, banyak yang unggul dengan balutan kontruksi animasi. Dengan media animasi itu mereka bebas sesukanya merekayasa tokoh-tokoh yang diciptakannya.

Menggambarkan susunan kepala di kaki atau kaki di kepala juga terserah saja. Imajinasi Anda yang mungkin masuk kategori jenius kreatif dapat mewujudkan kreasi dan berkarya seenak-enaknya. Sebab media yang digunakan wujudnya sekedar gambar kartun saja. Sehingga secara moral, karya Anda menjadi mudah diterima akal yang sehat. Bahkan ketika ide-idenya semakin menggila, Anda tetap aman.

Anda boleh membayangkan apa saja lalu menuliskannya atau menggambarkannya. Seperti bagaimana kisah Harry Potter, Tom and Jerry, Donald Duck, Lion King ataupun Mickey Mouse dituliskan. Hingga kemudian divisualisasikan dalam komik, foto dan film. Semua itu basisnya adalah setting. Namun tidak ada yang jadi pening. Lantaran semua itu tidak menjungkir-balikan dan tidak mematikan makhluk hidup dalam proses kreatifnya.

Namun ketika Anda nekad menggunakan makhluk bernyawa untuk mewujudkan imajinasi Anda, yang harus saya akui luar binasa itu. Tentunya pemirsa umum pada akhirnya akan terhenyak. Karna secara anatomi makhluk-makhluk yang Anda rekayasa gesturnya itu, punya keterbatasan mengikuti kehendak imajinasi Anda yang ajaibnya keterlaluan.

Banyak orang bikin pembenaran. Katanya semua itu dilakukan tanpa menyakiti atau tanpa melalui tindakan penyiksaan sama sekali. Karna memang rintihan perih yang mungkin harusnya Anda dengar, sebagai reaksi akibat perlakuan kasar, tidak disuarakan oleh makhluk yang jadi obyek itu. Bahkan ekspresi kesakitan juga tidak pula ditunjukannya. Minimal itulah asumsi kita yang memang kurang belajar soal reaksi dan ekspresi binatang.

Kecuali Anda memang khusus mempelajari semua makhluk yang Anda kreasikan dan potret itu. Maka akan ada orang lain dengan pemahaman lebih soal itu yang tampil bereaksi. Inilah konsekuensi logis dari berbagi foto di jejaring sosial. Apalagi kemudian Anda nekad ikutan lomba foto internasional pula. Jangan kaget bila nantinya ada tuntutan pertanggung jawaban moral terhadap karya Anda itu.

Boleh saja sekarang ini Anda merasa kuat. Lantaran bergabung dalam satu kelompok seniman karbitan yang mudah tersulut isu sektorial ataupun nasionalisme. Lalu kelihatan solider dan saling membela. Kemudian mengobarkan dorongan untuk selalu kompak, terus semangat dan terus berkarya. Saya yang mudah bingung tidak heran melihat kenyataan seperti ini. Sebab seorang penipu itu pasti mudah mengenali dan memaafkan penipu lainnya.

Pada akhirnya. Tiap-tiap orang tetap akan bertanggung jawab seorang diri mengenai apa yang telah dilakukannya. Saya kuatir, tepuk tangan bergemuruh yang Anda rasakan sebagai dukungan kepada Anda itu, tetap akan bersorak sorai gembira juga ketika Anda jatuh tersungkur.

Rekayasa yang keterlaluan memang sulit dicarikan alasan pembenarannya. Secara moral dan akhlak masing-masing orang pasti punya batasan. Apalagi agama dan sistim nilai di masyarakat ikut membatasi juga dengan aturan kaku. Soal boleh dan tidak bolehnya, soal pantas dan tidak pantasnya melakukan sesuatu.

Kebanyakan dengan alasan daripada malu, akhirnya para fotografer itu tetap nekad. Tidak mau mengakui proses kreatif yang kebablasan itu. Terus bikin pembenaran. Hingga nantinya sadar diri bahwa cara berkaryanya itu lucu. Pembenaran mengarah pada semangat mengarang keterangan palsu. Sebagai bumbu penyedap karya fotonya yang fantastis itu. Membohongi semua orang dapat saja dilakukan. Tapi beban membohongi diri sendiri itu pasti berat. Hingga kelak kebohongan itu akhirnya  terungkap.

“Jujur itu memang menyakitkan. Tapi jujur lebih baik dari pada Anda terus membohongi diri sendiri.” Kalimat ini memang sering kali digunakan oleh kaum yang sukanya dibohongi. Biasanya disampaikan sambil menangis tersedu-sedu demi mengais kejujuran Anda yang tidak mungkin lagi kembali.

Berdasar tekad berdusta seperti itu. Kita harus teguh dan kuatkan hati. Jangan gampang terpancing. Sekali bohong tetap saja bohong. Kecuali sudah tidak sanggup lagi menanggung beban yang jadi akibatnya. Karna seperti teman saya bilang, “kebohongan adalah kejujuran yang tertunda.”


Bayu Sahaja

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja