joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Dukung

Email Cetak

Beberapa hari lalu saya menghadiri acara peresmian sebuah rumah makan di Batam. Seperti rumah makan pada umumnya. Semuanya selalu mengatakan sebagai nomor satu. Namun satu hal yang berbeda. Di sela-sela acara pembukaan yang diselingi panggung musik. Saya dibuat terkagum-kagum oleh kemunculan deretan model yang tampil dengan busana ala Jember festival.

Kemunculan para model sungguh di luar dugaan saya. Betapa saya mengira hanya akan ada dua model yang tampil sebagai obyek lomba foto yang memang diadakan pihak panitia. Peresmian itu memang dimeriahkan acara lomba foto dengan tema, “Ramahnya Dapur Lombok.” Acara lomba foto ini melibatkan juri yang kompeten di bidangnya. Yaitu Andreas Messah dan juga Willy Brodus.

Sepuluh model di luar dugaan saya itu tampil dan berdandan dengan balutan busana yang bahannya beragam. Ada yang menggunakan akar pohon, ada yang menggunakan sayap berbahan ranting, daun palem, dedaunan, kertas warna-warni dan ada pula yang menggunakan plastik bekas. Saya terpana menyaksikan kreativitas ini.

Apalagi kehadiran mereka digelar ala parade. Setelah jalan berkeliling area seputar rumah makan Dapur Lombok. Satu persatu model akhirnya naik panggung sambil diiringi penjelasan dari pihak agencynya. Sungguh kreatif ide Next Colour dalam hal ini. “Semoga acara ini dapat jadi pemantik untuk menyalanya keberpihakan pada kreatifitas yang mampu mengobarkan gairah pariwisata di Batam khususnya.” Begitu doa tulus saya dalam hati.

Lebih terpana lagi ketika panitia mengumumkan bahwa acara itu melibatkan banyak pendukung dalam pelaksanaannya. Antara lain Batamasya Travel, Bisa Laundry, Hoki Teleshop, BisaNgopi, KepriFoto, Bisa Travel, Kuas Digital, Batam Photographer, One Adverdtising dan Next Colour sendiri. Ini sungguh mengharukan. Betapa kita menyadari bahwa dukungan nyata terhadap industri kreatif adalah segalanya.

Banyak fotografer yang kebetulan berada di Batam ikut hadir pada acara ini. Undangan yang diedarkan pihak panitia memang provokatif. Undangan itu terbukti mampu mengusik hati para penghobi foto di Batam untuk ikut meramaikan acara ini. Tertera pada undangan yang tersebar luas di jejaring sosial, “Atas nama kopi, fotografi dan silahturahmi. Siapa pula yang memilih tega untuk tidak hadir.”

Terlebih rasa penasaran warga Batam memang membuncah. Sebab beberapa waktu sebelum pembukaan rumah makan ini. Iklan dan promosi bertaburan di media massa, jejaring sosial dan banner-banner pinggir jalan. Ditambah munculnya papan bunga kiriman rekanan rumah makan itu pada pembukaan tanggal 18 Januari 2014 itu.

Strategi pengenalan pada khalayak dikemas dengan baik. Pengelola rumah makan Dapur Lombok memunculkan beragam lomba yang mengundang rasa ingin tahu banyak orang. Lihat saja akun twitter @DapurLombok. Di sana ramai para pengguna twitter mengirimkan slogan yang cocok buat usaha Dapur Lombok dan Ayam Taliwang.

Alhasil kalimat-kalimat seru dan ada juga yang lucu bermunculan. Meskipun slogan kiriman saya tidak terpilih. Saya sempat harap-harap cemas menanti pengumuman pihak panitia. Sebab jika slogan kiriman saya termasuk 10 slogan yang nantinya dipilih panitia. Hadiahnya lumayan. Pulsa Rp.100.000,-

Hadiah lomba foto yang jumlahnya lumayan sesungguhnya bukan satu-satunya magnet yang menarik minat para penghobi foto. Tapi rasa ingin tahu akan hadirnya parade model yang akan tampil di acara pembukaan itulah yang menjadi daya tarik utama. Pihak Next Colour mengabarkan untuk tidak perlu jauh-jauh ke Brazil, Jember atau Krakatau untuk melihat parade model. Karna pada acara peresmian Dapur Lombok itu, di Batam, Next Colour akan mengadakan parade yang sama.

Meskipun acara ini skalanya kecil. Namun ini adalah langkah awal yang bagus. Karna biar bagaimana pun juga. Perjalanan seribu mil harus dimulai dari satu langkah awal seperti ini. Tindakan nyata seperti inilah yang kelak akan menjadi industri besar. Lantaran semua pihak jadi sadar bahwa kreatifitas adalah fondasi yang luar biasa untuk berkarya dalam bidang apapun.

Saat ini memang kita mengalami krisis kepercayaan terhadap produk dalam negeri. Lihatlah betapa iklan dan promosi mengenai hal-hal yang asalnya dari luar tiada henti membujuk. Menawarkan keindahan pemandangan. Baik arsitektur ataupun kealamian, keotentikan budaya serta kecanggihan teknologi. Semua itu dikemas dengan teknik promosi berdasar kebutuhan yang sangat mengena.

Itulah mengapa tidak heran jika banyak dari kita yang terlena dan terbuai oleh rayuan produk import. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, hiburan, gadget dan juga kendaraan. Silahkan inventarisir mulai dari diri sendiri. Berapa banyak produk import yang saat membaca tulisan ini Anda kenakan. Bahkan saya sangat yakin kalau media untuk membaca tulisan ini juga merupakan produk asing.

Di tengah gempuran segala produk asing. Saya terhibur oleh hadirnya undangan peresmian rumah makan Dapur Lombok. Tentu saja ini hidangan tradisional yang sebutan khasnya ayam taliwang. Sesuai dengan namanya, lombok identik dengan pedas. Pengelola mengemas iklan dan promosinya dengan mengedepankan rasa pedas yang mengundang bikin penasaran.

Meskipun pada deretan menu yang tersedia ada juga hidangan yang ramah buat yang tidak doyan pedas. Namun sajian utama Dapur Lombok adalah menu-menu yang membuat air liur menetes. Selain warna sajian yang selalu berhiaskan warna merah cabai. Rasanya juga tidak bohong. Selain sempat menikmati sajian ayam taliwang. Di acara itu saya sempat mencicipi gado-gado. Sejujurnya saya takjub dengan rasanya yang segar dan kerenyahannya. “Ini dia pesaing salad. Sajian tradisional yang maknyus!” Ujar teman dengan wajah sumringah menahan pedas.

Inilah wujud industri yang berbasis kreativitas. Seperti kita tahu bersama. Mengedepankan produk andalan tradisional dalam negeri sudah pasti tantangannya besar. Sebab saat ini bangsa kita sedang silau oleh kemilau rembesan produk import. Sehingga segala sesuatu yang asalnya dari dalam negeri sudah tidak ditengok lagi.

Semoga kehadiran rumah makan Dapur Lombok memberikan kepercayaan kepada masyarakat luas. Bahwa Indonesia itu kaya raya. Baik dari sisi sumber daya alamnya dan juga soal budayanya. Bahkan kuliner tradisional yang berasal dari beragam daerahnya punya daya jual yang tinggi.

Kembali lagi pada kreativitas dalam soal mengemas. Betapa persoalan produk dalam negeri selalu kalah dalam soal kemasan dan penyajian. Berangkat dari sisi itu. Semoga Dapur Lombok mampu mengemas sajiannya dengan manis dan elegan. Supaya semua orang menjadi sadar. Bahwa makanan tradisional jika dikelola dengan baik tidak akan ada matinya.

Akhir kata, sukses Dapur Lombok!

Bayu Sahaja

 

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja