joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Lestari

Email Cetak

Memang sudah dari sononya, saya itu sukanya ya ikut-ikutan. Sehingga bukan merupakan sesuatu yang perlu diherankan. Ketika saat masih sekolah dulu, saya ikut-ikutan jadi pecinta alam. Gagah dan bangga rasanya naik turun gunung, bertenda di alam liar dan  menyusuri sungai.

Secara perlahan jadi paham. Bahwa alam terkadang hanya butuh dibiarkan untuk lestari. Orang-orang yang mengaku mencintai alam, adalah orang-orang yang punya tekad membiarkan alam tumbuh dengan caranya sendiri. Memanipulasi alam demi kepentingan manusia, pada akhirnya selalu berujung pada penyesalan umat manusia itu sendiri.

Kita kerap menyangka alam murka ketika terjadi bencana alam. Seperti tanah longsor, gempa bumi ataupun tsunami. Padahal yang sesungguhnya terjadi, alam bergeliat meluruskan kemauan dan menyeimbangkan dirinya. Seperti kita menggeliatkan tubuh yang kaku setelah tidur nyenyak semalaman.

Doktrin teguh yang terus didengungkan oleh pembina kala hendak menikmati alam, “jangan tinggalkan apapun kecuali kenangan, jangan bunuh apapun kecuali waktu dan jangan ambil apapun kecuali gambar.” Ajaran itu membuat kami makin semangat ikut aksi bersih-bersih sampah di kawasan gunung. Macam-macam sampah kami kumpulkan, masukan karung dan kami angkut turun. Mulai dari kemasan air mineral, plastik kemasan beragam jenis makanan, kondom, botol miras, kaleng minuman dan aneka sampah yang seenaknya dibuang orang di sepanjang jalur pendakian hingga puncaknya.

Padahal kita selalu menduga, orang yang rela naik-naik ke puncak gunung, adalah orang yang mengaku cinta pada alam. Tapi anehnya, kelakuan yang mencerminkan ketidak pedulian pada alam jusru terlihat jelas. Mereka gemar buang sampah seenaknya, bahkan memetik aneka hayati yang ada di areal pegunungan. Kesemua jejak itu menuturkan semangat yang jauh dari gelar indah, pecinta alam. Semua kesemberonoan itu dilakukan demi memenuhi romantisme jiwa diri sendiri, yang piciknya bikin sakit hati. Ada yang tega-teganya memanen Edelweis si bunga abadi hingga kini menjadi langka adanya.

Pagi ini ngopi sambil baca buku. Bukan di perpustakaan. Tapi beneran, ini tempat ngopi. Saya terenyuh dengan apa yang disampaikan oleh Francisca Harlijanto, yang suka fotografi dan paham soal menyelam di lautan. Katanya, “fotografer underwater wajib menjaga kelestarian dan keindahan dengan tidak menyentuh binatang atau tanaman atau karang laut.” Katanya juga, dibeberapa daerah ada larangan penyelam gunakan sarung tangan. Sebagai lanjutan anjuran yang memastikan, agar para penyelam tidak seenaknya menyentuh apa-apa yang ada di dalam lautan. Tulisan soal kecintaannya pada fotografi dan alam bawah laut demikian total disampaikan.

Saya bukan hanya tergoda, bahkan terasa tertampar. Menyadari kelakuan saya selama ini yang tidak peduli dengan segalanya. Buat saya, motivasi utama adalah bagaimana jadi juara dan mendapat kalung bunga puja-puji di jejaring sosial. Makin terpuruk, ketika melihat kenyataan yang dilakukan fotografer lainnya. Pesta pora, bangga sambil tertawa-tawa merusak dan mematikan segalanya. Sungguh saya kagum, terinspirasi positip oleh apa yang disampaikan Francisca Harlijanto.

Kalimat barusan, saya kutip dari buku yang demikian kuat menginspirasi, sekaligus mengisi kekosongan kualitas buku di dunia fotografi. Buku berjudul, The Art Of Vision – Kumpulan Kiat Berburu Foto, merupakan buku wajib baca bagi yang mengaku penyuka fotografi alam. Atau fotografer yang hobinya ngerusak keseimbangan alam. Siapa tahu berniat tobat, bagus juga membacanya. Menyimak isi bukunya, saya menyimpulkan kandungan ajaran dasar. Bahwa esensi memotret demi menyajikan keindahan alam harusnya didasari bagaimana akrab, peduli dan cinta dulu padanya.

Buku yang digagas oleh Effendi Suryajaya, serta 6 fotografer yang telah teruji dan menguji dirinya kepada alam. Hingga mampu bercerita diselingi tampilan foto alami yang berkelas. Melihat karya-karya di sana saya makin percaya, kualitas foto alami terbaik bukan pada bagaimana kita memanipulasinya. Namun lebih pada semangat hendak mengatakan apa, ditunjang akal sehat serta niatan yang wajib baik. Lalu sebagai tugas lanjutan, harus pula mempersiapkan diri sedemikian rupa untuk ada di alam. Bukan justru mengada-ada. Membiarkan alam berkenan menunjukan keindahan dengan caranya. Ketika momennya kita anggap tepat, tugas kita hanyalah merekamnya secara fotografi dengan sentuhan seni yang pribadi tentunya.

Effendy Suryajaya, Fransisca Harlijanto, Andiyan Lutfie, Rarindra Prakarsa, Yadi Yasin, dan Angela Hartojo. Adalah orang-orang yang punya keahlian dan terbukti mampu mengemas sajian yang menginspirasi. Tulisan ini bukan promosi pesanan seperti resensi buku yang biasa ada di media massa. Saya mengulas ini lantaran tertarik dengan muatan sahabat saya, Andiyan Lutfi yang anak Cibinong, yang membahas soal fotografi makro di buku ini. Sangat suka gaya paparannya yang sederhana namun mengena.

Kagum dan bangga. Dengan bagaimana Andiyan menyarankan datang lebih pagi saat hendak berburu foto serangga. Di alam kala pagi, sisa embun malamnya masih mempengaruhi kelincahan serangga. Sehingga memotretnya di waktu itu, memberi kesempatan pada kita sedikit leluasa. Serangga di waktu pagi tidak selincah di siang hari. Mudah-mudahan apa yang disampaikan Andiyan, bukan bermaksud menyindir saya yang sulit bangun siang karna memang tidurnya selalu pagi. Seperti bagaimana saya suka bermalas-malasan saat berburu makro di alam terbuka.

Sedihnya, di jaman penuh dengan kemudahan. Kenikmatan dan popularitas juga mudah diraih. Banyak orang yang tanpa referensi memadai, tiba-tiba bikin sensasi. Ini memang gairah salah yang ditawarkan era gombalisasi (*baca: jaman edan). Seperti pernah saya bilang, sembarang orang bisa saja muncul kepermukaan. Seperti kodok buduk yang riang gembira belompatan kala hujan datang. Tanpa basa-basi dan hanya demi sensasi, dengan teganya menularkan bagaimana memanipulasi segalanya dengan berbagai cara pula.

Bukan salahnya jika saya harus meringis menyaksikan aksi sadisnya. Jelas sekali soal itu bukanlah salahnya. Saya akui itu semua salah saya, yang tidak mampu membatasi panca indera untuk tidak sibuk lihat-lihat. Sebagai akibatnya, saya harus menanggung derita. Menyaksikan orang mengajarkan bagaimana memotret keindahan alam dengan cara merusaknya.

Ambil jalan pintas. Menggunakan akalnya untuk mematikan gerak makhluk yang hidup, supaya mudah memotretnya. Semua itu dilakukan semata-mata hanya untuk meraih bunga-bunga bangga. Dapat pujian lantaran berhasil memanipulasi kematian jadi keindahan fotografis yang seolah hidup. Dalam hati saya masih kerap bertanya, adakah yang selalu memujinya adalah golongan raja tega semua. Jangan tanya dengan mata sinis begitu pula ke saya, tentang apa motivasinya. Sebab oknumnya jauh dari jangkauan. Sehingga sulit bagi saya untuk mengkonfirmasi tujuan kelakuannya.

Saya sadar. Biar bagaimana, semua orang berhak punya cara untuk belajar. Kalau diijinkan menasehatinya. Paling awal, saya tawarkan padanya untuk gunakan fasilitasnya, klik kata kunci di google. Demi mencari soal pentingnya apa-apa yang ada di dunia bagi umat manusia. Juga bagaimana cara sebaiknya, manusia memperlakukan alam dan kehidupannya. Sebagai tambahan yang tidak perlu bayar, boleh juga klik kata kunci, global warming.

Saya yang bukan arif apalagi bijaksana. Selalu merekomendasikan diciptanya hubungan saling menguntungkan antara pecinta fotografi dan alam. Namun bagaimana mungkin saya berani menawarkan cara itu pada Anda sebagai solusi. Ketika mengetahui betul, bahwa Anda hanya termotivasi pada semangat hubungan badan, sebagai jaminan timbal balik dasar hubungan saling untungnya.

Bahkan kecoa yang kerap kita kejar-kejar dengan tekad membasminya, punya peran bagi kehidupan. Ada paradoks soal hubungan serangga dengan manusia. Sebagai salah satu penumpang dalam jagad raya ini, saya meyakini, bahwa semua yang ada pasti punya peranan demi keseimbangan. Pasti akan pincang bila yang ada jadi tiada. Soal arti yang ada jadi tiada, sudah pasti tidak terasa bagi Anda yang hidupnya serba tersedia. Apalagi toserba menjual segalanya.

Seperti siapa juga yang peduli pada kenyataan, Harimau Jawa dan Harimau Sumatera sudah tiada. Lantas apa pentingnya buat kita tentang keberadaan makhluk buas itu. Bukankah yang paling penting adalah manusia. Sehingga dengan segala aset dan akal pikirnya menjadi layak untuk merambah singgasana, milik raja hutan sekalipun.

Lalu dengan semena-mena mendeklarasikan. Bahwa binatang liar adalah hama bagi tanaman dan ladang mereka. Berdasar pembenaran teritorial, akhirnya binatang liar jadi korban. Padahal hati kecil harusnya bertanya. Siapa yang lebih dulu ada di sana. Sehingga menjadi jelas, siapa perambah teritorialnya.

Ada kasus orang utan ditembaki, dikurung tanpa diberi makan bahkan dibakar hidup-hidup. Kita boleh menangis menyaksikan gajah-gajah yang kakinya terjerat kawat. Wujud cerdiknya manusia yang mujarab memasang perangkap. Kawat baja lekat menjerat kaki gajah. Makin mengikat jadi ketat dari tiap gerak ronta naluri gajah yang ingin bebas.

Gerakan brutal yang dilakukan hewan sekuat gajah sekalipun, urung membebaskan. Jerat kawat baja yang kuat makin mengikat, mengiris tebalnya daging hingga lekat ke tulang. Gajah yang tidak mengerti akhirnya diam. Menerima diri terjerat, lapar dan perih yang tak terkira. Menyerah pasrah untuk mati pelan perlahan.

 

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja